"tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel bernard batubara"
Dear you,
Saat ini aku tengah memandangi senja yang mengintip di balik hari. Indah. Riak-riak emasnya kian memudar seiring datangnya awan gelap yang kian mendominasi, dan entah mengapa hal ini membawaku kembali ke masa itu. Ya, masa di mana aku dan kau melebur menjadi kita karena alasan cinta.
Kau ingat hari itu? Ah, mungkin kau sudah lupa, mengingat hal itu sudah lama berlalu. Tapi tidak masalah, karena aku hanya ingin sedikit bercerita padamu.
Sore itu aku sudah memutuskan akan satu hal, meski ada sedikit keraguan yang samar mengiringiku saat itu- karena sungguh keputusan itu bukan inginku meski aku tetap melakukannya. Jari-jariku mulai mengetikkan sederet kata yang akan kukirimkan padamu. Bukan aku tidak mau untuk menemuimu langsung, hanya saja kupikir ini lebih baik, meski pada kenyataannya aku juga tak memungkiri jika aku berharap kau akan membalasnya dan memintaku menemuimu untuk menyelesaikannya secara langsung.
Tapi sudah beberapa menit berlalu kau tak kunjung membalas pesanku, hingga aku yakin kau tak mungkin membalasnya dan saat itu juga aku putuskan hubungan kita berakhir.
Kau mungkin bertanya-tanya apa alasanku, atau mungkin tidak? Tapi tak perlulah kau tahu, karena ini terdengar sangat klise dan aku yakin ada beberapa pihak yang akan tertawa mendengar alasanku. Tapi aku tidak peduli, biarkan aku menjadi egois saat itu karena aku ingin orang di sekitarku bahagia. Begitu juga kau, kuharap.
Tidak banyak kenangan yang terlukis di antara kita dulu, tapi beberapa hal manis yang kau lakukan untukku mampu membuatku tersenyum dan tidak menyesali kau sempat hadir menghias hariku.
Kau tahu? Aku bahkan sedang tersenyum saat ini menceritakan masa lalu. Tidak, tidak, kau jangan salah paham dulu. Aku tersenyum karena membayangkan betapa lucunya aku saat itu, oh ya ampun bahkan aku tengah membayangkan sikap malu-maluku saat itu, dan kau jangan coba-coba membayangkannya juga! Tapi tentu saja kau boleh tersenyum sepuasmu, teman.
Rabu, 02 April 2014
Rabu, 19 Februari 2014
Just You
Sore itu, langit kelabu
menangis. Aku berjalan sendiri di jalan yang pernah kita lewati bersama. Kau
tahu? Sekalipun aku tak pernah absen memikirkanmu.
Tiap hari, tiap waktu,
di manapun hujan kan bernyanyi, kenangan yang berserakan itu kan bergabung
berulang kali, menyusupkan harapan yang tak terkabul ke dalam hatiku yang
berayun. Tawamu, lengkung sabit indahmu, dan segala hal manis yang hanya kau
lakukan dihadapanku membayang di sela rintik hujan.
Kau lihat? Bagaimana
aku bisa melupakanmu, jika otakku saja menolak untuk menghapus segala memory
tentangmu? Betapa menyedihkannya aku yang terkomando oleh bayang masa lalu,
menjadi budak rindu yang menggebu, meski aku tahu kau tak akan pernah lagi
berlabuh di hatiku?
Bahkan jika kututup mataku, tetap kau yang selalu
berhasil meresap ke dalam hatiku.
Owari~
Terinspirasi dari lagu Remember The Rain - Deluhi #FiksiLagu
Jumat, 24 Januari 2014
Dreaming About You
Gak sengaja buka-buka file di laptop yang udah banyak sarang laba-laba,, eeh nemu ini deh! ^^
Akhirnya aku baca ni cerpen, serius ngakak ga berenti pas bacanya. Aku sampe ga nyangka bisa nulis sekonyol ini (well, bagi aku ini emang konyol xD). Bener-bener parah deh pokonya..wkwkwk
Oke. Let's cek it out ^////^
>>>>>> xDD
Seperti
biasa dimalam-malam pertandingan yang akan dijalani klub terbesar Spanyol Real
Madrid-yang juga merupakan klub favoritku. Alarmku berbunyi, menggetarkan
lelapku agar aku segera terjaga. Kusibak selimut yang semalaman membantuku
sedikit menghalau hembusan angin dari kipas angin yang memang sengaja
kunyalakan, antara dingin dan panas. Begitulah.
Aku beranjak untuk sedikit menyegarkan
diri dengan membasuh wajahku, setidaknya agar aku tidak merasakan kantuk lagi.
Kutekan remote yang langsung menampilkan
gambar pada layar tv lcd-ku. Rupanya sebentar lagi kick off.
Pertandingan
yang mempertemukan Real Madrid dengan Borussia Dortmund 25 April 2013 pukul
01.30 WIB dini hari tadi, memang sangat menegangkan. Tapi tunggu, bukan itu
yang ingin aku ceritakan. Ini tentang mimpiku, ya mimpi ketika aku kembali
terlelap seusai menonton pertandingan itu. Mimpi yang selalu kunantikan.
Aku
tahu ini hanya mimpi, tapi karena itulah. Karena hanya di dalam mimpi aku bisa
bertemu dengannya, dengan sesosok pria yang selama ini menjadi idolaku. Salah
satu pemain inti madrid. Mesut Özil. *hahaha*
Entah apa yang kupikirkan sebelum
benar-benar terlelap. Yang kuingat hanya doaku untuk kemenangan Madrid di leg
kedua di Bernabeu nanti.
This
is a dream~
Aku yang berada
dalam mimpiku sendiri, entah mengapa tiba-tiba melangkah mendekati jendela
rumahku dan terlihatlah pemandangan dibawahnya. Rumahku seperti berada di
tebing. Kurasa. Karena seperti ada sebuah pantai di bawah sana, dan jarak
rumahku cukup tinggi dari bawah sana.
Tiba-tiba iris
mataku menangkap sebuah pergerakan di dalam air, itu terlihat karena
gelombang-gelombang air yang diciptakannya. Mataku menyipit, mencoba
memfokuskan pandanganku. Dan muncullah sebuah kepala yang menandakan yang
bergerak tadi adalah seorang manusia. Tunggu, sepertinya aku tidak asing dengan
wajah itu. Aku yakin. Bahkan sepertinya belum lama aku pernah melihatnya, tapi
entah dimana… *mungkin di tv, kan
aku baru nonton dia ya -_-*
Mata itu,
senyumnya. Ah, ya aku tidak salah lagi. Degup jantungku mulai tak terkontrol,
rasanya jika terus dibiarkan terjadi jantungku mungkin akan terlepas(?) *mati
dong*, baiklah itu terdengar berlebihan.
Entah berapa lama aku melamun, sosok itu
sudah ada di depan gerbang rumahku. Tunggu, rumahku itu cukup tinggi jadi
bagaimana bisa dia sudah sampai di depan? *namanya juga mimpi, apapun bisa
terjadi kan?*
Dia melambaikan tangannya seolah tengah
menyadarkanku, aku terkesiap dan mulai mengerutkan keningku menandakan aku
tengah bingung dengan apa yang sedang dilakukan pria itu. mengerti dengan
kebingunganku dia kembali bersuara dan sedikit keras, mengingat di bawah sana adalah
pantai pasti akan sulit terdengar karena ombak.
“Bawakan aku kursi, ini terlalu tinggi
untukku,” begitulah yang aku dengar, tanpa ba-bi-bu lagi aku segera melesat ke
arah dapur, dan mencari kursi yang dimintanya tadi. Yap, dapat. Aku tersenyum
penuh kemenangan, tapi tetap tidak lupa dengan degup jantung yang semakin aneh
ini.
Aku berlari ke depan rumah, dan
sampailah aku,
dimana kini aku tengah menatap sosok yang selama ini ingin aku temui. Oh, dan
dia tersenyum padaku. Kurasa aku akan segera pingsan jika saja suaranya tidak
kembali menyadarkanku. “Hey.. kau
mendengarku? Berikan kkursi itu padaku, dan masuklah ke dalam. Aku
akan segera naik,” aku segera memberikan kursi tadi dan masuk ke dalam rumah
menuruti permintaannya.
Jika
seperti ini, rasanya pria itu seperti sudah sangat lama mengenalku(?) *perasaan* Belum sempat aku
menyelesaikan ritual tarik napas dalam-dalam pintu depan sudah terbuka,
menampakkan sesosok pria dengan jaket dark greennya dan melukiskan senyuman
hangat padaku. Mungkin saat ini pipiku sudah semerah tomat, aku tidak peduli.
“K-kau
Ozil? Sungguh?” akhirnya kalimat itu mengalir begitu saja memastikan
penglihatanku.
“Seperti yang kau lihat,” katanya santai, seraya merentangkan
tangannya mengundangku dalam dekapannya. Tanpa mempedulikan apapun lagi aku
langsung berlari, menerjangnya dan berakhir dalam dekapan hangatnya.
“Sungguh aku berharap ini bukan mimpi,
ini terlalu nyata bagiku, kebahagiaan ini sangat terasa untukku,” kataku tak
henti mengungkapkan isi hatiku.
Lama
kami berpelukan, meski tak rela akhirnya kulepaskan pelukannya.
“awww,” aku meringis seraya mengusap-usap
lenganku yang baru saja kucubit sendiri.
“Kau tidak apa-apa?” Katanya dengan nada
khawatir.
“Tidak, aku hanya memastikan kalau ini
benar-benar bukan mimpi”,
aku tersenyum. *walau kenyataannya memang mimpi ToT*
“Kau ini,”
Kami saling bertatapan, aku tidak tahu
harus berbicara apa lagi. Rasa bahagia, haru, terkejut, seolah membungkam
mulutku untuk berkata lebih banyak pada sosok pria yang memang selalu kuharapkan
untuk bertemu.
‘Ozil,’ batinku.
End
Sebentar memang, karena lagi-lagi
alarmku berbunyi membangunkanku untuk segera sholat subuh. Fiuuhh~
Oke,
jika kalian mau tertawa sampai salto sekalipun aku tidak peduli. Ini hanya
mimpi, dan semua yang tak mungkin pasti menjadi mungkin di dalam mimpi. Tidak
ada yang salah dalam sebuah mimpi, karena mimpi merupakan bunga tidur. Tapi
sungguh, baru kali ini aku bermimpi seolah benar-benar terjadi. Tatapan matanya
seolah nyata tertangkap iris coklatku.
Sudahlah, sekali lagi ini HANYA MIMPI!
Dan aku bersyukur telah diberikan mimpi seindah ini.
xDDD~
Langganan:
Komentar (Atom)