Rabu, 02 April 2014

surat untuk mantan

 "tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel bernard batubara"


Dear you,

Saat ini aku tengah memandangi senja yang mengintip di balik hari. Indah. Riak-riak emasnya kian memudar seiring datangnya awan gelap yang kian mendominasi, dan entah mengapa hal ini membawaku kembali ke masa itu. Ya, masa di mana aku dan kau melebur menjadi kita karena alasan cinta.

Kau ingat hari itu? Ah, mungkin kau sudah lupa, mengingat hal itu sudah lama berlalu. Tapi tidak masalah, karena aku hanya ingin sedikit bercerita padamu.

Sore itu aku sudah memutuskan akan satu hal, meski ada sedikit keraguan yang samar mengiringiku saat itu- karena sungguh keputusan itu bukan inginku meski aku tetap melakukannya. Jari-jariku mulai mengetikkan sederet kata yang akan kukirimkan padamu. Bukan aku tidak mau untuk menemuimu langsung, hanya saja kupikir ini lebih baik, meski pada kenyataannya aku juga tak memungkiri jika aku berharap kau akan membalasnya dan memintaku menemuimu untuk menyelesaikannya secara langsung.
Tapi sudah beberapa menit berlalu kau tak kunjung membalas pesanku, hingga aku yakin kau tak mungkin membalasnya dan saat itu juga aku putuskan hubungan kita berakhir.
Kau mungkin bertanya-tanya apa alasanku, atau mungkin tidak? Tapi tak perlulah kau tahu, karena ini terdengar sangat klise dan aku yakin ada beberapa pihak yang akan tertawa mendengar alasanku. Tapi aku tidak peduli, biarkan aku menjadi egois saat itu karena aku ingin orang di sekitarku bahagia. Begitu juga kau, kuharap.
Tidak banyak kenangan yang terlukis di antara kita dulu, tapi beberapa hal manis yang kau lakukan untukku mampu membuatku tersenyum dan tidak menyesali kau sempat hadir menghias hariku.

Kau tahu? Aku bahkan sedang tersenyum saat ini menceritakan masa lalu. Tidak, tidak, kau jangan salah paham dulu. Aku tersenyum karena membayangkan betapa lucunya aku saat itu, oh ya ampun bahkan aku tengah membayangkan sikap  malu-maluku saat itu, dan kau jangan coba-coba membayangkannya juga! Tapi tentu saja kau boleh tersenyum sepuasmu, teman.


Rabu, 19 Februari 2014

Just You




Sore itu, langit kelabu menangis. Aku berjalan sendiri di jalan yang pernah kita lewati bersama. Kau tahu? Sekalipun aku tak pernah absen memikirkanmu.
Tiap hari, tiap waktu, di manapun hujan kan bernyanyi, kenangan yang berserakan itu kan bergabung berulang kali, menyusupkan harapan yang tak terkabul ke dalam hatiku yang berayun. Tawamu, lengkung sabit indahmu, dan segala hal manis yang hanya kau lakukan dihadapanku membayang di sela rintik hujan.
Kau lihat? Bagaimana aku bisa melupakanmu, jika otakku saja menolak untuk menghapus segala memory tentangmu? Betapa menyedihkannya aku yang terkomando oleh bayang masa lalu, menjadi budak rindu yang menggebu, meski aku tahu kau tak akan pernah lagi berlabuh di hatiku?
Bahkan jika kututup mataku, tetap kau yang selalu berhasil meresap ke dalam hatiku.

Owari~
Terinspirasi dari lagu Remember The Rain - Deluhi #FiksiLagu

Jumat, 24 Januari 2014

Dreaming About You


           Gak sengaja buka-buka file di laptop yang udah banyak sarang laba-laba,, eeh nemu ini deh! ^^
Akhirnya aku baca ni cerpen, serius ngakak ga berenti pas bacanya. Aku sampe ga nyangka bisa nulis sekonyol ini (well, bagi aku ini emang konyol xD). Bener-bener parah deh pokonya..wkwkwk
Oke. Let's cek it out ^////^

>>>>>>  xDD
 

            Seperti biasa dimalam-malam pertandingan yang akan dijalani klub terbesar Spanyol Real Madrid-yang juga merupakan klub favoritku. Alarmku berbunyi, menggetarkan lelapku agar aku segera terjaga. Kusibak selimut yang semalaman membantuku sedikit menghalau hembusan angin dari kipas angin yang memang sengaja kunyalakan, antara dingin dan panas. Begitulah.
Aku beranjak untuk sedikit menyegarkan diri dengan membasuh wajahku, setidaknya agar aku tidak merasakan kantuk lagi.
Kutekan remote yang langsung menampilkan gambar pada layar tv lcd-ku. Rupanya sebentar lagi kick off.
Pertandingan yang mempertemukan Real Madrid dengan Borussia Dortmund 25 April 2013 pukul 01.30 WIB dini hari tadi, memang sangat menegangkan. Tapi tunggu, bukan itu yang ingin aku ceritakan. Ini tentang mimpiku, ya mimpi ketika aku kembali terlelap seusai menonton pertandingan itu. Mimpi yang selalu kunantikan.
            Aku tahu ini hanya mimpi, tapi karena itulah. Karena hanya di dalam mimpi aku bisa bertemu dengannya, dengan sesosok pria yang selama ini menjadi idolaku. Salah satu pemain inti madrid. Mesut Özil. *hahaha*
Entah apa yang kupikirkan sebelum benar-benar terlelap. Yang kuingat hanya doaku untuk kemenangan Madrid di leg kedua di Bernabeu nanti.
This is a dream~
Aku yang berada dalam mimpiku sendiri, entah mengapa tiba-tiba melangkah mendekati jendela rumahku dan terlihatlah pemandangan dibawahnya. Rumahku seperti berada di tebing. Kurasa. Karena seperti ada sebuah pantai di bawah sana, dan jarak rumahku cukup tinggi dari bawah sana.
Tiba-tiba iris mataku menangkap sebuah pergerakan di dalam air, itu terlihat karena gelombang-gelombang air yang diciptakannya. Mataku menyipit, mencoba memfokuskan pandanganku. Dan muncullah sebuah kepala yang menandakan yang bergerak tadi adalah seorang manusia. Tunggu, sepertinya aku tidak asing dengan wajah itu. Aku yakin. Bahkan sepertinya belum lama aku pernah melihatnya, tapi entah  dimana *mungkin di tv, kan aku baru nonton dia ya -_-*
Mata itu, senyumnya. Ah, ya aku tidak salah lagi. Degup jantungku mulai tak terkontrol, rasanya jika terus dibiarkan terjadi jantungku mungkin akan terlepas(?) *mati dong*, baiklah itu terdengar berlebihan.
Entah berapa lama aku melamun, sosok itu sudah ada di depan gerbang rumahku. Tunggu, rumahku itu cukup tinggi jadi bagaimana bisa dia sudah sampai di depan? *namanya juga mimpi, apapun bisa terjadi kan?*
Dia melambaikan tangannya seolah tengah menyadarkanku, aku terkesiap dan mulai mengerutkan keningku menandakan aku tengah bingung dengan apa yang sedang dilakukan pria itu. mengerti dengan kebingunganku dia kembali bersuara dan sedikit keras, mengingat di bawah sana adalah pantai pasti akan sulit terdengar karena ombak.
“Bawakan aku kursi, ini terlalu tinggi untukku,” begitulah yang aku dengar, tanpa ba-bi-bu lagi aku segera melesat ke arah dapur, dan mencari kursi yang dimintanya tadi. Yap, dapat. Aku tersenyum penuh kemenangan, tapi tetap tidak lupa dengan degup jantung yang semakin aneh ini.
Aku berlari ke depan rumah, dan sampailah aku, dimana kini aku tengah menatap sosok yang selama ini ingin aku temui. Oh, dan dia tersenyum padaku. Kurasa aku akan segera pingsan jika saja suaranya tidak kembali menyadarkanku. “Hey.. kau mendengarku? Berikan kkursi itu padaku, dan masuklah ke dalam. Aku akan segera naik,” aku segera memberikan kursi tadi dan masuk ke dalam rumah menuruti permintaannya.
            Jika seperti ini, rasanya pria itu seperti sudah sangat lama mengenalku(?) *perasaan* Belum sempat aku menyelesaikan ritual tarik napas dalam-dalam pintu depan sudah terbuka, menampakkan sesosok pria dengan jaket dark greennya dan melukiskan senyuman hangat padaku. Mungkin saat ini pipiku sudah semerah tomat, aku tidak peduli.
“K-kau Ozil? Sungguh?” akhirnya kalimat itu mengalir begitu saja memastikan penglihatanku.
“Seperti yang kau lihat,” katanya santai, seraya merentangkan tangannya mengundangku dalam dekapannya. Tanpa mempedulikan apapun lagi aku langsung berlari, menerjangnya dan berakhir dalam dekapan hangatnya.
“Sungguh aku berharap ini bukan mimpi, ini terlalu nyata bagiku, kebahagiaan ini sangat terasa untukku,” kataku tak henti mengungkapkan isi hatiku.
            Lama kami berpelukan, meski tak rela akhirnya kulepaskan pelukannya.
“awww,” aku meringis seraya mengusap-usap lenganku yang baru saja kucubit sendiri.
“Kau tidak apa-apa?” Katanya dengan nada khawatir.
“Tidak, aku hanya memastikan kalau ini benar-benar bukan mimpi”, aku tersenyum. *walau kenyataannya memang mimpi ToT*
“Kau ini,”
Kami saling bertatapan, aku tidak tahu harus berbicara apa lagi. Rasa bahagia, haru, terkejut, seolah membungkam mulutku untuk berkata lebih banyak pada sosok pria yang memang selalu kuharapkan untuk bertemu.
‘Ozil,’ batinku.
End
Sebentar memang, karena lagi-lagi alarmku berbunyi membangunkanku untuk segera sholat subuh. Fiuuhh~
            Oke, jika kalian mau tertawa sampai salto sekalipun aku tidak peduli. Ini hanya mimpi, dan semua yang tak mungkin pasti menjadi mungkin di dalam mimpi. Tidak ada yang salah dalam sebuah mimpi, karena mimpi merupakan bunga tidur. Tapi sungguh, baru kali ini aku bermimpi seolah benar-benar terjadi. Tatapan matanya seolah nyata tertangkap iris coklatku.
Sudahlah, sekali lagi ini HANYA MIMPI! Dan aku bersyukur telah diberikan mimpi seindah ini.
xDDD~