Sayap-sayap kecil mulai
dikepakkan, menerbangkan para pemiliknya menyapa dunia yang mungkin selama ini
terasa asing, disertai dengan tawa
khas mereka, merekahkan bahagia yang lama terpendam. Sedangkan aku? Hanya bisa
menatap mereka dari balik jendela kayu yang sedikit rapuh tanpa bisa
membayangkan bagaimana dunia yang akan mereka jelajahi. Mungkin indah.
Entah apa yang terjadi,
tapi sayapku tak kunjung berkembang layaknya peri remaja yang pada umumnya mempunyai
sayap yang sempurna. Ini membuatku gila, bahkan aku sempat berpikir untuk
melakukannya. Ah, tidak. Jika saja Gray tak menghalangiku untuk pergi kesana,
kemungkinan besar sayapku akan berkembang atau... ‘Huh’ aku melenguh tak
sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padaku saat itu jika aku benar pergi
kesana.
Sebuah tempat yang diyakini banyak peri dapat
mengembangkan sayap yang tidak tumbuh dengan sempurna, ya seperti sayap milikku.
Tapi tentu ada resiko dibalik itu. Jika sayap tidak berkembang, maka peri itu
akan melebur. Entah apa yang terjadi di tempat itu sehingga bisa membuat sayap
menjadi tumbuh atau berkembang. Yang jelas aku sangat penasaran dan ingin
sekali mencobanya.
***
Mungkin
ini adalah hari yang sangat ditunggu semua peri yang sudah menginjak remaja. Mereka
akan pergi untuk beberapa hari untuk sekedar mengetahui bagaimana dunia yang
selama ini kami tinggali. Peraturan itu sudah ada sejak berabad-abad yang
tepatnya pun aku tidak tahu. Dan sementara mereka semua bersenang-senang,
mungkin, setidaknya mereka bisa terbang dengan sayap mereka sesuka hati. Sementara
aku? Bisa kupastikan sepi tak akan pernah meninggalkanku. Ah, dan Gray pun tak
ada. Aku benar-benar merasa sendiri.
Tuhan,
aku hanya ingin menjalani hidup yang sesungguhnya. Menjalani hidup yang sudah
kubayangkan sejak masa kecil dulu. Seorang
bocah yang selalu menanti hari ini dalam hidupnya. Tapi ketika hari yang
kunanti tiba, haruskah aku menangis menerima sakitnya kenyataan yang kuterima?
Kututup jendela kamar, setidaknya aku tidak harus
melihat tawa teman-temanku yang, jujur saja sedikit perih saat aku melihatnya. Aku
iri. Dan aku tak mengelaknya.
Kutenggelamkan wajahku
pada bantal biru berbentuk daun favoritku, berteriak sekeras yang aku inginkan
tanpa harus takut para tetangga akan
memarahiku. Rumahku berada di batang yang lumayan tinggi ketimbang rumah-rumah
lain yang berada dibagian akar pohon. Aku memilihnya karena memang aku menyukainya,
setelah ibu meninggal saat melahirkanku aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Ayah?
Beliau sudah pergi entah kemana tanpa membawa serta aku yang masih menangis tak
berdaya saat itu, kurasa kematian Ibu sangat memukul hatinya. Aku tidak peduli,
toh aku pun tak pernah bertemu dengannya. Bibi Lucy yang dengan sabar
merawatku, tapi ketika aku sudah cukup mengerti aku memutuskan untuk tinggal
sendiri lagipula dengan sayap yang seperti ini aku tidak ingin lebih banyak
lagi menyusahkan Bibi Lucy.
Tok tok.. sedikit jelas aku mendengar ketukan di pintu
rumahku. Aku berhenti berteriak dan mencoba menjelaskan pendengaranku. Tok..tok..
sekali lagi ketukan itu terdengar, aku segera beranjak dan membuka pintu.
“G-Gray?” kataku
tergagap mendapati Gray berada disini bukannya pergi dengan peri-peri yang
lain.
“Kau tidak akan
membiarkanku masuk?” aku tersadar dan menyuruhnya masuk sembari menyembunyikan
rona merah pada wajahku saat mata kami bertemu sesaat.
“Gray tapi kenapa kau..”
aku mulai bertanya ketika kami sudah duduk, tapi Gray langsung memotongnya.
“Malas.” Aku melongo
mendengar jawabannya, dan mungkin kini mulutku tengah membentuk huruf ‘O’.
“Tapi bagaimana bisa?”
aku masih tidak habis pikir dengannya, jika saja sayapku sempurna mungkin aku
sudah melesat jauh entah kemana. Dan orang ini, dengan santainya hanya
menjawab ‘malas’. Glekk. Aku menelan
ludah.
“Aku lebih senang
menemanimu ketimbang harus terbang tak jelas.” Deg. Aku sama sekali tak
berpikir sampai kesana, aku pikir setiap remaja apalagi seorang laki-laki pasti
akan menunggu saat-saat ini ketika mereka mulai bebas mengepakkan sayapnya. Tapi
Gray, ah lagi-lagi pemuda ini membuatku merasa bersalah karena aku belum bisa
menjadi teman yang mengerti dirinya. Berbeda dengannya yang selalu mengerti
aku.
“Terima kasih Gray.” Aku
menunduk malu.
“Haha, sudahlah. Bagaimana
kalau kita mencari madu, banyak bunga yang bermekaran hari ini.” Aku melihat senyumnya
mengembang ketika aku mendongak untuk menatapnya.
“Hmm.. aku mau.” Aku segera
bangkit dan mengekori Gray yang akan membawaku terbang bersamanya.
***
Aku,
Neya. Terlahir sebagai peri yang entah mengapa aku merasa diriku tidak seperti
itu, karena sayap yang aku punya tidak berkembang layaknya peri yang lain. Aku selalu
menyendiri, itulah kenapa aku tidak mempunyai teman dekat. Tapi Gray, pemuda
itu berbeda. Entah kenapa, dengan mudahnya dia bisa masuk ke dalam kehidupanku
tanpa ada perlawanan dari diriku.
Rasanya aku lebih memilih kembali ke masa laluku
tanpa berpikir untuk berada disini seperti sekarang ini, meski itu tidak
mungkin. Tapi, disinilah aku sekarang di padang bunga yang tengah bermekaran
dengan anggunnya. Keberadaan Gray merubah segalanya, dia membuatku meyadari
satu hal bahwa aku harus menghadapi hari esok,
entah apa yang akan terjadi kedepannya tapi aku akan terus berusaha untuk
menjadi peri yang sesungguhnya meski perjuangan
nanti akan terasa berat, asal Gray selalu disisiku aku yakin bisa melewatinya.
“Manis.”
“Eh-
apa?” aku bertanya pada Gray yang kini tengah bertingkah aneh karena dia
tertangkap basah tengah memperhatikanku. “Haha. Kau lucu Gray.”
“...”
Gray menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal. “Jangan menertawaiku.” Wajahnya
berubah semerah tomat. Tuhan, aku tidak tahan ingin mencubit pipinya itu.
“Huaaah~
Melelahkan memanen madu dari bunga sebanyak ini.” Aku berjalan mendekati Gray
yang masih salah tingkah dengan membawa madu yang sudah mengisi seluruh botol
yang kubawa. Aku duduk disampingnya.
“Menyenangkan
bukan?” Gray mengambil botol madu yang tadi kubawa.
“Hn-
setidaknya aku tak harus mengurung diri di rumah.” Kataku senang.
“Kalau
begitu kau harus membuatkanku cookies madu terenak.” Katanya bangga dengan
cengiran lebar yang khas ketika dia sedang merasa senang.
“Baiklah.
Tapi kau harus membantuku.”
“Aku
tidak mau!” katanya langsung menolak. Bisa kupastikan saat ini Gray sedang
membayangkan kejadian dulu saat aku memintanya untuk membantuku membuat cookies
madu. Cookiesnya memang jadi dengan sempurna, tapi seluruh tubuh Gray berbalut
tepung, karena aku tidak sengaja menabraknya saat aku tengah membawa tepung.
“Haha,
bukankah kau suka berbalut tepung?”
“Jangan
menggodaku!”
“Aku
tidak menggodamu. Tapi itu kenyataan.” Aku menjulurkan lidahku dan berlari
sebelum Gray mengejarku.
“Awas
saja kau Neyaaaa..”
***
Kini
aku merasa sempurna, meski sayapku tetap tak berkembang tapi Gray selalu dengan
senang hati membawaku terbang bersamanya. Dan itu sudah cukup untukku. Aku tidak
akan mengeluh lagi. Karena Gray aku lebih bisa menghargai diriku dan memahami
hidup yang akan kujalani selanjutnya.
Tema 8
Tomorrow's Way
END