Gadis itu menyandarkan
tubuhnya pada bingkai kayu jendela kamarnya, menikmati hujan yang entah sudah berapa lama mengguyur. Hari ini ia libur,
sehingga ia tak harus bertarung dengan hujan untuk pergi ke kampus. Matanya
menerawang ke arah langit yang tengah menangis. Pandangannya kosong, pikirannya
berlari tak menentu. Hingga akhirnya otaknya berhenti pada sebuah memory dua
tahun silam, yang masih ia ingat dengan sangat baik. Lalu tenggelam dalam masa
lalunya.
***
>>>>>
Hujan sore itu membuat
gadis bermanik coklat yang masih sibuk melayani pembeli sedikit kesal. Tunggu,
bukan kesal karena harus melayani pembeli yang memang sedang ramai saat itu, ia
sangat memahami sekali pekerjaannya sebagai seorang barista di sebuah Starbucks
yang berada disudut paling ramai kota itu. Hanya saja, itu berarti ia harus menunggu
sampai hujan reda agar ia bisa pulang kerumahnya. Dan ia benci itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 06.55 p.m itu berarti
lima menit lagi jam kerja gadis itu akan berakhir. Senyum samar tergambar pada
wajahnya yang manis, karena hujan sudah sedikit reda, meninggalkan gerimis
kecil yang masih setia menetes. Gadis itu segera berlari menyusuri jalanan kota yang cukup lengang karena
hujan. Tapi apa daya selang beberapa menit ketika gadis itu sudah sampai di
halte bus, hujan kembali turun seolah belum puas membasahi bumi yang memang
sedikit panas siang tadi. Gadis itu melepas jaketnya kemudian mengibaskannya
untuk sedikit menghilangkan air yang menempel, akibat gerimis yang sempat
membasahi jaketnya saat berlari tadi, lalu ia memakainya kembali.
Turunnya
hujan membuat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, alhasil halte
tempat gadis itu menunggu bus pun menjadi sesak. Orang-orang saling berdesakan
satu sama lain dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya dan tersungkur
ke aspal jalan, dan dengan cepat ada tangan yang membantunya berdiri.
“Kau
tidak apa-apa?” Tanya orang itu dengan nada khawatir, dari nada suaranya dia
adalah seorang pria. Gadis itu masih meringis kesakitan karena siku tangannya
sedikit berdarah karena terjatuh tadi dan mengabaikan pria yang sudah
menolongnya. “Tunggu, kau Zea kan? Ya, aku tidak salah lagi.” Ucap pria itu
dengan semburat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Mendengar itu gadis
yang diketahui bernama Zea itu pun langsung mendongak dan mendapati pria
dihadapannya tengah tersenyum ke arahnya.
“Vino?”
Mata Zea terbalalak tak percaya atas apa yang dilihatnya. Ia langsung memeluk
pria dihadapannya tanpa tahu bahwa seseorang yang tengah dipeluknya itu sangat
terkejut.
***
Tak ada buku-buku dalam
dekapannya, tak ada apron yang membalut tubuhnya, tak ada cangkir-cangkir kopi
yang menghiasi tangannya. Yang ada hanya gadis dalam balutan dress putih
selututnya dengan sedikit pernik yang menghiasi bagian tangannya dan tas kecil
yang berada dalam genggamannya berwarna senada dengan dressnya. Cantik. Itulah kata
yang pas untuk menggambarkan gadis yang bernama Zea itu.
Senyumnya kembali mengembang, mengingat untuk apa
alasan ia berpenampilan seperti itu. Dua minggu yang lalu entah apa yang Tuhan
rencanakan. Gadis itu kembali bertemu dengan seseorang yang hampir saja ia
lupakan dengan sempurna, jika saja hujan tak mempertemukan mereka kembali.
Seseorang yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan akan bertemu. Seseorang yang
sangat ia sayangi. Vino, cinta pertamanya.
Ya,
hari ini adalah kencan pertama mereka. Meski satu minggu sudah terlewat, dari
pernyataan cinta Vino yang begitu membuat gadis berparas cantik itu harus
menitikkan air mata bahagianya karena haru menyelimuti malam yang tak akan pernah ia lupakan.
***
Mobil
ferrari hitam terparkir di depan sebuah bangunan, bukan restoran berbintang
lima atau apapun yang berbau elit dan semacamnya. Melainkan sebuah bangunan tua
yang sederhana, desainnya begitu rapi dan kokoh menggambarkan keramahan dan
ketegasan pemiliknya.
Zea merasa hangat ketika tangan Vino menggenggamnya
dan menariknya untuk memasuki bagian dari bangunan itu lebih dalam lagi. Dan
kini Zea tengah berada didepan pintu yang cukup besar.
“Tutup
matamu.” Pinta Vino pada Zea. Gadis itu tak langsung melakukan apa yang Vino
pinta. Ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Kumohon.” Ahirnya Zea
menutup matanya karena tidak tahan dengan wajah memelas Vino.
Zea dituntun memasuki sebuah ruangan setelah pintu
dibuka, dan membantunya duduk. Perasaan gadis itu akan semakin takut jika saja
sebuah suara tak menyuruhnya untuk membuka mata dan mendapati dirinya kini
tengah terkejut, bukan karena sesuatu yang membuatnya takut. Tapi sesuatu yang
membuat lidahnya kelu dan tak sanggup mengatakan apapun, melainkan hanya tangis
yang mampu mewakili perasaanya saat itu. Bagaimana bisa Zea tak terkejut, di
ruangan yang kini tengah ia tempati telah ditata sedemikian rupa, hingga ia
lupa bahwa tempat itu adalah sebuah bangunan tua. Tak ada lampu melainkan hanya
lilin-lilin yang ditempatka disudut-sudut yang tepat. Menambah romantis dan
kesan hangat yang dipancarkan oleh lilin
itu, belum lagi mawar-mawar merah yang bertebaran dimana-mana, membuat gadis
itu semakin terlihat cantik dengan drees putihnya.
“Hey
hey, jangan menangis.” Ucap Vino pelan padanya sembari mengusap air mata yang sudah
membasahi pipinya. “Tersenyumlah.” Pria itu tersenyum hangat. Seakan tertular,
sudut bibir gadis itu pun tertarik hingga terlukislah sebuah senyum yang
mengembang.
Malam itu Zea sangat bahagia, ia dan Vino menikmati
kencan pertama mereka. Terkadang gadis itu tertawa karena lelucon yang
dilontarkan pria yang sangat ia cintai itu. Percakapan-percakapan ringan
membuat mereka semakin akrab dan semakin tahu satu sama lain, setelah cukup lama
mereka tidak pernah bertemu. Ingin rasanya Zea lebih lama lagi menghabiskan
kebersamannya dengan Vino, jika saja malam tak beranjak semakin larut.
***
Hari-hari yang dijalani Zea semakin berwarna dengan
kehadiran Vino disampingnya. Mereka selalu menyempatkan diri untuk bertemu di
sela-sela kesibukkan di kampus. Vino yang selalu mengantarkannya pergi bekerja
dan tak pernah lupa menjemputnya. Oh tidak, bahkan pria itu pernah berada dalam
starbucks hingga Zea menyelesaikan pekerjaannya. Saat itu Zea merasa kurang
enak badan, tapi gadis itu tetap memaksakan diri untuk bekerja meski sudah
berpuluh kalimat yang diucapkan Vino untuk membujuk kekasihnya itu agar tetap
berada dirumah. Lima jam bukan waktu yang sebentar bukan? Dan Vino rela
melakukan itu semua hanya untuk mamastikan Zea baik-baik saja, dan takan
terjadi apa-apa pada gadis itu.
Zea sangat tersentuh
atas sikap kekasihnya itu, ia langsung memeluk Vino ketika ferrari hitam sudah
terparkir di depan rumahnya, cukup lama hingga ahirnya gadis itu melepaskan
pelukannya dan langsung berlari ke dalam rumah. Zea sempat tersenyum sebelum
akhirnya ia menghilang dibalik pintu rumahnya.
***
Sudah satu tahun sejak pertemuannya dengan Vino. Tak ada
masalah yang serius selama mereka menjadi sepasang kekasih, karena Vino selalu
mempunyai cara untuk membuatnya tenang bahkan ketika dirinya sangat marah
sekali pun. Ia selalu percaya pada kekasihnya itu, meski kekhawatiran tak
hentinya menyelimuti dirinya kala Vino
mulai jarang menemuinya sampai satu bulan Vino benar-benar tak menampakkan diri
dihadapannya. Pria itu hanya mengirim pesan singkat agar dirinya jangan terlalu
khawatir.
Hingga pada suatu malam
ketika Zea tengah bersiap untuk pulang dari tempat kerjanya, ia menerima telfon
entah dari siapa. Wajah yang tadinya ceria berubah pucat, ia merasa kakinya
sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya yang mulai bergetar, air mata sudah
membanjiri wajahnya, isakan mulai terdengar, hingga ia tak mampu menggenggam
ponselnya dan membiarkan ponsel itu jatuh membentur lantai.
‘Vino, kanker ganas, operasi gagal, meninggal.’
kalimat-kalimat itu mulai berputar dikepalanya tanpa mampu ia cerna sedikitpun.
Pandangannya mulai kabur, hitam mulai
menyelumuti tatap matanya yang entah ia arahkan kemana. Hingga ahirnya gadis
itu ambruk.
>>>>>
***
“Huh.” Gadis itu
menyeka air matanya. “Sudah dua tahun Zea, harusnya kau sudah tak mengeluarkan
air matamu ketika mengingat semuanya.” Ya, dua tahun sudah semuanya terlewati,
tapi gadis itu tetap menangis ketika tanpa sengaja memory masa lalunya terputar
kembali. Tangan itu menutup jendela, sepertinya ia mulai merasa kedinginan.
Lalu, ia hempaskan tubuhnya pada ranjang seolah ingin melepaskan semua bebannya
dalam sekali hempasan. Ia tahu dunia tak akan berhenti hanya karena cintanya
pergi, biarkanlah rindu tetap
mendekapnya meski tak tahu kemana rindu itu akan berlabuh. Ia harus terus
melanjutkan hidup. Tetap semangat
mencari ilmu, bekerja seperti biasa tanpa harus mengeluh pada dunia. Karena ia
tahu, rencana Tuhan selalu yang terbaik.
Owari~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar