Kamis, 31 Januari 2013

Mendekap Rindu Bayangmu


Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada bingkai kayu jendela kamarnya, menikmati hujan yang entah sudah berapa lama mengguyur. Hari ini ia libur, sehingga ia tak harus bertarung dengan hujan untuk pergi ke kampus. Matanya menerawang ke arah langit yang tengah menangis. Pandangannya kosong, pikirannya berlari tak menentu. Hingga akhirnya otaknya berhenti pada sebuah memory dua tahun silam, yang masih ia ingat dengan sangat baik. Lalu tenggelam dalam masa lalunya.
***
>>>>> 
Hujan sore itu membuat gadis bermanik coklat yang masih sibuk melayani pembeli sedikit kesal. Tunggu, bukan kesal karena harus melayani pembeli yang memang sedang ramai saat itu, ia sangat memahami sekali pekerjaannya sebagai seorang barista di sebuah Starbucks yang berada disudut paling ramai kota itu. Hanya saja, itu berarti ia harus menunggu sampai hujan reda agar ia bisa pulang kerumahnya. Dan ia benci itu.

             Waktu sudah menunjukan pukul 06.55 p.m itu berarti lima menit lagi jam kerja gadis itu akan berakhir. Senyum samar tergambar pada wajahnya yang manis, karena hujan sudah sedikit reda, meninggalkan gerimis kecil yang masih setia menetes. Gadis itu segera berlari menyusuri jalanan kota yang cukup lengang karena hujan. Tapi apa daya selang beberapa menit ketika gadis itu sudah sampai di halte bus, hujan kembali turun seolah belum puas membasahi bumi yang memang sedikit panas siang tadi. Gadis itu melepas jaketnya kemudian mengibaskannya untuk sedikit menghilangkan air yang menempel, akibat gerimis yang sempat membasahi jaketnya saat berlari tadi, lalu ia memakainya kembali.
            Turunnya hujan membuat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, alhasil halte tempat gadis itu menunggu bus pun menjadi sesak. Orang-orang saling berdesakan satu sama lain dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya dan tersungkur ke aspal jalan, dan dengan cepat ada tangan yang membantunya berdiri.
            
             “Kau tidak apa-apa?” Tanya orang itu dengan nada khawatir, dari nada suaranya dia adalah seorang pria. Gadis itu masih meringis kesakitan karena siku tangannya sedikit berdarah karena terjatuh tadi dan mengabaikan pria yang sudah menolongnya. “Tunggu, kau Zea kan? Ya, aku tidak salah lagi.” Ucap pria itu dengan semburat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Mendengar itu gadis yang diketahui bernama Zea itu pun langsung mendongak dan mendapati pria dihadapannya tengah tersenyum ke arahnya.
              
             “Vino?” Mata Zea terbalalak tak percaya atas apa yang dilihatnya. Ia langsung memeluk pria dihadapannya tanpa tahu bahwa seseorang yang tengah dipeluknya itu sangat terkejut.
***
             Tak ada buku-buku dalam dekapannya, tak ada apron yang membalut tubuhnya, tak ada cangkir-cangkir kopi yang menghiasi tangannya. Yang ada hanya gadis dalam balutan dress putih selututnya dengan sedikit pernik yang menghiasi bagian tangannya dan tas kecil yang berada dalam genggamannya berwarna senada dengan dressnya. Cantik. Itulah kata yang pas untuk menggambarkan gadis yang bernama Zea itu.

Senyumnya kembali mengembang, mengingat untuk apa alasan ia berpenampilan seperti itu. Dua minggu yang lalu entah apa yang Tuhan rencanakan. Gadis itu kembali bertemu dengan seseorang yang hampir saja ia lupakan dengan sempurna, jika saja hujan tak mempertemukan mereka kembali. Seseorang yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan akan bertemu. Seseorang yang sangat ia sayangi. Vino, cinta pertamanya.
             
             Ya, hari ini adalah kencan pertama mereka. Meski satu minggu sudah terlewat, dari pernyataan cinta Vino yang begitu membuat gadis berparas cantik itu harus menitikkan air mata bahagianya karena haru menyelimuti malam yang tak akan pernah ia lupakan.
***
            Mobil ferrari hitam terparkir di depan sebuah bangunan, bukan restoran berbintang lima atau apapun yang berbau elit dan semacamnya. Melainkan sebuah bangunan tua yang sederhana, desainnya begitu rapi dan kokoh menggambarkan keramahan dan ketegasan pemiliknya.
Zea merasa hangat ketika tangan Vino menggenggamnya dan menariknya untuk memasuki bagian dari bangunan itu lebih dalam lagi. Dan kini Zea tengah berada didepan pintu yang cukup besar.
             
            “Tutup matamu.” Pinta Vino pada Zea. Gadis itu tak langsung melakukan apa yang Vino pinta. Ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Kumohon.” Ahirnya Zea menutup matanya karena tidak tahan dengan wajah memelas Vino.
Zea dituntun memasuki sebuah ruangan setelah pintu dibuka, dan membantunya duduk. Perasaan gadis itu akan semakin takut jika saja sebuah suara tak menyuruhnya untuk membuka mata dan mendapati dirinya kini tengah terkejut, bukan karena sesuatu yang membuatnya takut. Tapi sesuatu yang membuat lidahnya kelu dan tak sanggup mengatakan apapun, melainkan hanya tangis yang mampu mewakili perasaanya saat itu. Bagaimana bisa Zea tak terkejut, di ruangan yang kini tengah ia tempati telah ditata sedemikian rupa, hingga ia lupa bahwa tempat itu adalah sebuah bangunan tua. Tak ada lampu melainkan hanya lilin-lilin yang ditempatka disudut-sudut yang tepat. Menambah romantis dan kesan  hangat yang dipancarkan oleh lilin itu, belum lagi mawar-mawar merah yang bertebaran dimana-mana, membuat gadis itu semakin terlihat cantik dengan drees putihnya.
            
            “Hey hey, jangan menangis.” Ucap Vino pelan padanya sembari mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya. “Tersenyumlah.” Pria itu tersenyum hangat. Seakan tertular, sudut bibir gadis itu pun tertarik hingga terlukislah sebuah senyum yang mengembang.
            Malam itu Zea sangat bahagia, ia dan Vino menikmati kencan pertama mereka. Terkadang gadis itu tertawa karena lelucon yang dilontarkan pria yang sangat ia cintai itu. Percakapan-percakapan ringan membuat mereka semakin akrab dan semakin tahu satu sama lain, setelah cukup lama mereka tidak pernah bertemu. Ingin rasanya Zea lebih lama lagi menghabiskan kebersamannya dengan Vino, jika saja malam tak beranjak semakin larut.
***
            Hari-hari yang dijalani Zea semakin berwarna dengan kehadiran Vino disampingnya. Mereka selalu menyempatkan diri untuk bertemu di sela-sela kesibukkan di kampus. Vino yang selalu mengantarkannya pergi bekerja dan tak pernah lupa menjemputnya. Oh tidak, bahkan pria itu pernah berada dalam starbucks hingga Zea menyelesaikan pekerjaannya. Saat itu Zea merasa kurang enak badan, tapi gadis itu tetap memaksakan diri untuk bekerja meski sudah berpuluh kalimat yang diucapkan Vino untuk membujuk kekasihnya itu agar tetap berada dirumah. Lima jam bukan waktu yang sebentar bukan? Dan Vino rela melakukan itu semua hanya untuk mamastikan Zea baik-baik saja, dan takan terjadi apa-apa pada gadis itu.
Zea sangat tersentuh atas sikap kekasihnya itu, ia langsung memeluk Vino ketika ferrari hitam sudah terparkir di depan rumahnya, cukup lama hingga ahirnya gadis itu melepaskan pelukannya dan langsung berlari ke dalam rumah. Zea sempat tersenyum sebelum akhirnya ia menghilang dibalik pintu rumahnya.
***
            Sudah satu tahun sejak pertemuannya dengan Vino. Tak ada masalah yang serius selama mereka menjadi sepasang kekasih, karena Vino selalu mempunyai cara untuk membuatnya tenang bahkan ketika dirinya sangat marah sekali pun. Ia selalu percaya pada kekasihnya itu, meski kekhawatiran tak hentinya menyelimuti dirinya  kala Vino mulai jarang menemuinya sampai satu bulan Vino benar-benar tak menampakkan diri dihadapannya. Pria itu hanya mengirim pesan singkat agar dirinya jangan terlalu khawatir.

Hingga pada suatu malam ketika Zea tengah bersiap untuk pulang dari tempat kerjanya, ia menerima telfon entah dari siapa. Wajah yang tadinya ceria berubah pucat, ia merasa kakinya sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya yang mulai bergetar, air mata sudah membanjiri wajahnya, isakan mulai terdengar, hingga ia tak mampu menggenggam ponselnya dan membiarkan ponsel itu jatuh membentur lantai.
            
            ‘Vino, kanker ganas, operasi gagal, meninggal.’ kalimat-kalimat itu mulai berputar dikepalanya tanpa mampu ia cerna sedikitpun. Pandangannya mulai kabur, hitam  mulai menyelumuti tatap matanya yang entah ia arahkan kemana. Hingga ahirnya gadis itu ambruk.
>>>>> 
***
            “Huh.” Gadis itu menyeka air matanya. “Sudah dua tahun Zea, harusnya kau sudah tak mengeluarkan air matamu ketika mengingat semuanya.” Ya, dua tahun sudah semuanya terlewati, tapi gadis itu tetap menangis ketika tanpa sengaja memory masa lalunya terputar kembali. Tangan itu menutup jendela, sepertinya ia mulai merasa kedinginan. Lalu, ia hempaskan tubuhnya pada ranjang seolah ingin melepaskan semua bebannya dalam sekali hempasan. Ia tahu dunia tak akan berhenti hanya karena cintanya pergi, biarkanlah rindu tetap mendekapnya meski tak tahu kemana rindu itu akan berlabuh. Ia harus terus melanjutkan hidup. Tetap semangat mencari ilmu, bekerja seperti biasa tanpa harus mengeluh pada dunia. Karena ia tahu, rencana Tuhan selalu yang terbaik.

Owari~
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar