Jumat, 01 Februari 2013

Sayap-Sayap Hidup


Sayap-sayap kecil mulai dikepakkan, menerbangkan para pemiliknya menyapa dunia yang mungkin selama ini terasa asing, disertai dengan tawa khas mereka, merekahkan bahagia yang lama terpendam. Sedangkan aku? Hanya bisa menatap mereka dari balik jendela kayu yang sedikit rapuh tanpa bisa membayangkan bagaimana dunia yang akan mereka jelajahi. Mungkin indah.
Entah apa yang terjadi, tapi sayapku tak kunjung berkembang layaknya peri remaja yang pada umumnya mempunyai sayap yang sempurna. Ini membuatku gila, bahkan aku sempat berpikir untuk melakukannya. Ah, tidak. Jika saja Gray tak menghalangiku untuk pergi kesana, kemungkinan besar sayapku akan berkembang atau... ‘Huh’ aku melenguh tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padaku saat itu jika aku benar pergi kesana.

Sebuah tempat yang diyakini banyak peri dapat mengembangkan sayap yang tidak tumbuh dengan sempurna, ya seperti sayap milikku. Tapi tentu ada resiko dibalik itu. Jika sayap tidak berkembang, maka peri itu akan melebur. Entah apa yang terjadi di tempat itu sehingga bisa membuat sayap menjadi tumbuh atau berkembang. Yang jelas aku sangat penasaran dan ingin sekali mencobanya.
***
            Mungkin ini adalah hari yang sangat ditunggu semua peri yang sudah menginjak remaja. Mereka akan pergi untuk beberapa hari untuk sekedar mengetahui bagaimana dunia yang selama ini kami tinggali. Peraturan itu sudah ada sejak berabad-abad yang tepatnya pun aku tidak tahu. Dan sementara mereka semua bersenang-senang, mungkin, setidaknya mereka bisa terbang dengan sayap mereka sesuka hati. Sementara aku? Bisa kupastikan sepi tak akan pernah meninggalkanku. Ah, dan Gray pun tak ada. Aku benar-benar merasa sendiri.

            Tuhan, aku hanya ingin menjalani hidup yang sesungguhnya. Menjalani hidup yang sudah kubayangkan sejak masa kecil dulu. Seorang bocah yang selalu menanti hari ini dalam hidupnya. Tapi ketika hari yang kunanti tiba, haruskah aku menangis menerima sakitnya kenyataan yang kuterima?

Kututup jendela kamar, setidaknya aku tidak harus melihat tawa teman-temanku yang, jujur saja sedikit perih saat aku melihatnya. Aku iri. Dan aku tak mengelaknya.

Kutenggelamkan wajahku pada bantal biru berbentuk daun favoritku, berteriak sekeras yang aku inginkan tanpa harus takut para tetangga akan memarahiku. Rumahku berada di batang yang lumayan tinggi ketimbang rumah-rumah lain yang berada dibagian akar pohon. Aku  memilihnya karena memang aku menyukainya, setelah ibu meninggal saat melahirkanku aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Ayah? Beliau sudah pergi entah kemana tanpa membawa serta aku yang masih menangis tak berdaya saat itu, kurasa kematian Ibu sangat memukul hatinya. Aku tidak peduli, toh aku pun tak pernah bertemu dengannya. Bibi Lucy yang dengan sabar merawatku, tapi ketika aku sudah cukup mengerti aku memutuskan untuk tinggal sendiri lagipula dengan sayap yang seperti ini aku tidak ingin lebih banyak lagi menyusahkan Bibi Lucy.

Tok tok..  sedikit jelas aku mendengar ketukan di pintu rumahku. Aku berhenti berteriak dan mencoba menjelaskan pendengaranku. Tok..tok.. sekali lagi ketukan itu terdengar, aku segera beranjak dan membuka pintu.

“G-Gray?” kataku tergagap mendapati Gray berada disini bukannya pergi dengan peri-peri yang lain.
           
“Kau tidak akan membiarkanku masuk?” aku tersadar dan menyuruhnya masuk sembari menyembunyikan rona merah pada wajahku saat mata kami bertemu sesaat.

“Gray tapi kenapa kau..” aku mulai bertanya ketika kami sudah duduk, tapi Gray langsung memotongnya.

“Malas.” Aku melongo mendengar jawabannya, dan mungkin kini mulutku tengah membentuk huruf ‘O’.

“Tapi bagaimana bisa?” aku masih tidak habis pikir dengannya, jika saja sayapku sempurna mungkin aku sudah melesat jauh entah kemana. Dan orang ini, dengan santainya hanya menjawab  ‘malas’. Glekk. Aku menelan ludah.

“Aku lebih senang menemanimu ketimbang harus terbang tak jelas.” Deg. Aku sama sekali tak berpikir sampai kesana, aku pikir setiap remaja apalagi seorang laki-laki pasti akan menunggu saat-saat ini ketika mereka mulai bebas mengepakkan sayapnya. Tapi Gray, ah lagi-lagi pemuda ini membuatku merasa bersalah karena aku belum bisa menjadi teman yang mengerti dirinya. Berbeda dengannya yang selalu mengerti aku.

“Terima kasih Gray.” Aku menunduk malu.

“Haha, sudahlah. Bagaimana kalau kita mencari madu, banyak bunga yang bermekaran hari ini.” Aku melihat senyumnya mengembang ketika aku mendongak untuk menatapnya.

“Hmm.. aku mau.” Aku segera bangkit dan mengekori Gray yang akan membawaku terbang bersamanya.
***

            Aku, Neya. Terlahir sebagai peri yang entah mengapa aku merasa diriku tidak seperti itu, karena sayap yang aku punya tidak berkembang layaknya peri yang lain. Aku selalu menyendiri, itulah kenapa aku tidak mempunyai teman dekat. Tapi Gray, pemuda itu berbeda. Entah kenapa, dengan mudahnya dia bisa masuk ke dalam kehidupanku tanpa ada perlawanan dari diriku.
Rasanya aku lebih memilih kembali ke masa laluku tanpa berpikir untuk berada disini seperti sekarang ini, meski itu tidak mungkin. Tapi, disinilah aku sekarang di padang bunga yang tengah bermekaran dengan anggunnya. Keberadaan Gray merubah segalanya, dia membuatku meyadari satu hal bahwa aku harus menghadapi hari esok, entah apa yang akan terjadi kedepannya tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi peri yang sesungguhnya meski perjuangan nanti akan terasa berat, asal Gray selalu disisiku aku yakin bisa melewatinya.
           
            “Manis.”
           
            “Eh- apa?” aku bertanya pada Gray yang kini tengah bertingkah aneh karena dia tertangkap basah tengah memperhatikanku. “Haha. Kau  lucu Gray.”

            “...” Gray menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal. “Jangan menertawaiku.” Wajahnya berubah semerah tomat. Tuhan, aku tidak tahan ingin mencubit pipinya itu.

            “Huaaah~ Melelahkan memanen madu dari bunga sebanyak ini.” Aku berjalan mendekati Gray yang masih salah tingkah dengan membawa madu yang sudah mengisi seluruh botol yang kubawa. Aku duduk disampingnya.

            “Menyenangkan bukan?” Gray mengambil botol madu yang tadi kubawa.

            “Hn- setidaknya aku tak harus mengurung diri di rumah.” Kataku senang.

            “Kalau begitu kau harus membuatkanku cookies madu terenak.” Katanya bangga dengan cengiran lebar yang khas ketika dia sedang merasa senang.

            “Baiklah. Tapi kau harus membantuku.”

            “Aku tidak mau!” katanya langsung menolak. Bisa kupastikan saat ini Gray sedang membayangkan kejadian dulu saat aku memintanya untuk membantuku membuat cookies madu. Cookiesnya memang jadi dengan sempurna, tapi seluruh tubuh Gray berbalut tepung, karena aku tidak sengaja menabraknya saat aku tengah membawa tepung.

            “Haha, bukankah kau suka berbalut tepung?”
           
            “Jangan menggodaku!”

            “Aku tidak menggodamu. Tapi itu kenyataan.” Aku menjulurkan lidahku dan berlari sebelum Gray mengejarku.

            “Awas saja kau Neyaaaa..”
***

            Kini aku merasa sempurna, meski sayapku tetap tak berkembang tapi Gray selalu dengan senang hati membawaku terbang bersamanya. Dan itu sudah cukup untukku. Aku tidak akan mengeluh lagi. Karena Gray aku lebih bisa menghargai diriku dan memahami hidup yang akan kujalani selanjutnya.


Tema 8
Tomorrow's Way
 

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar