Jumat, 24 Januari 2014

Dreaming About You


           Gak sengaja buka-buka file di laptop yang udah banyak sarang laba-laba,, eeh nemu ini deh! ^^
Akhirnya aku baca ni cerpen, serius ngakak ga berenti pas bacanya. Aku sampe ga nyangka bisa nulis sekonyol ini (well, bagi aku ini emang konyol xD). Bener-bener parah deh pokonya..wkwkwk
Oke. Let's cek it out ^////^

>>>>>>  xDD
 

            Seperti biasa dimalam-malam pertandingan yang akan dijalani klub terbesar Spanyol Real Madrid-yang juga merupakan klub favoritku. Alarmku berbunyi, menggetarkan lelapku agar aku segera terjaga. Kusibak selimut yang semalaman membantuku sedikit menghalau hembusan angin dari kipas angin yang memang sengaja kunyalakan, antara dingin dan panas. Begitulah.
Aku beranjak untuk sedikit menyegarkan diri dengan membasuh wajahku, setidaknya agar aku tidak merasakan kantuk lagi.
Kutekan remote yang langsung menampilkan gambar pada layar tv lcd-ku. Rupanya sebentar lagi kick off.
Pertandingan yang mempertemukan Real Madrid dengan Borussia Dortmund 25 April 2013 pukul 01.30 WIB dini hari tadi, memang sangat menegangkan. Tapi tunggu, bukan itu yang ingin aku ceritakan. Ini tentang mimpiku, ya mimpi ketika aku kembali terlelap seusai menonton pertandingan itu. Mimpi yang selalu kunantikan.
            Aku tahu ini hanya mimpi, tapi karena itulah. Karena hanya di dalam mimpi aku bisa bertemu dengannya, dengan sesosok pria yang selama ini menjadi idolaku. Salah satu pemain inti madrid. Mesut Özil. *hahaha*
Entah apa yang kupikirkan sebelum benar-benar terlelap. Yang kuingat hanya doaku untuk kemenangan Madrid di leg kedua di Bernabeu nanti.
This is a dream~
Aku yang berada dalam mimpiku sendiri, entah mengapa tiba-tiba melangkah mendekati jendela rumahku dan terlihatlah pemandangan dibawahnya. Rumahku seperti berada di tebing. Kurasa. Karena seperti ada sebuah pantai di bawah sana, dan jarak rumahku cukup tinggi dari bawah sana.
Tiba-tiba iris mataku menangkap sebuah pergerakan di dalam air, itu terlihat karena gelombang-gelombang air yang diciptakannya. Mataku menyipit, mencoba memfokuskan pandanganku. Dan muncullah sebuah kepala yang menandakan yang bergerak tadi adalah seorang manusia. Tunggu, sepertinya aku tidak asing dengan wajah itu. Aku yakin. Bahkan sepertinya belum lama aku pernah melihatnya, tapi entah  dimana *mungkin di tv, kan aku baru nonton dia ya -_-*
Mata itu, senyumnya. Ah, ya aku tidak salah lagi. Degup jantungku mulai tak terkontrol, rasanya jika terus dibiarkan terjadi jantungku mungkin akan terlepas(?) *mati dong*, baiklah itu terdengar berlebihan.
Entah berapa lama aku melamun, sosok itu sudah ada di depan gerbang rumahku. Tunggu, rumahku itu cukup tinggi jadi bagaimana bisa dia sudah sampai di depan? *namanya juga mimpi, apapun bisa terjadi kan?*
Dia melambaikan tangannya seolah tengah menyadarkanku, aku terkesiap dan mulai mengerutkan keningku menandakan aku tengah bingung dengan apa yang sedang dilakukan pria itu. mengerti dengan kebingunganku dia kembali bersuara dan sedikit keras, mengingat di bawah sana adalah pantai pasti akan sulit terdengar karena ombak.
“Bawakan aku kursi, ini terlalu tinggi untukku,” begitulah yang aku dengar, tanpa ba-bi-bu lagi aku segera melesat ke arah dapur, dan mencari kursi yang dimintanya tadi. Yap, dapat. Aku tersenyum penuh kemenangan, tapi tetap tidak lupa dengan degup jantung yang semakin aneh ini.
Aku berlari ke depan rumah, dan sampailah aku, dimana kini aku tengah menatap sosok yang selama ini ingin aku temui. Oh, dan dia tersenyum padaku. Kurasa aku akan segera pingsan jika saja suaranya tidak kembali menyadarkanku. “Hey.. kau mendengarku? Berikan kkursi itu padaku, dan masuklah ke dalam. Aku akan segera naik,” aku segera memberikan kursi tadi dan masuk ke dalam rumah menuruti permintaannya.
            Jika seperti ini, rasanya pria itu seperti sudah sangat lama mengenalku(?) *perasaan* Belum sempat aku menyelesaikan ritual tarik napas dalam-dalam pintu depan sudah terbuka, menampakkan sesosok pria dengan jaket dark greennya dan melukiskan senyuman hangat padaku. Mungkin saat ini pipiku sudah semerah tomat, aku tidak peduli.
“K-kau Ozil? Sungguh?” akhirnya kalimat itu mengalir begitu saja memastikan penglihatanku.
“Seperti yang kau lihat,” katanya santai, seraya merentangkan tangannya mengundangku dalam dekapannya. Tanpa mempedulikan apapun lagi aku langsung berlari, menerjangnya dan berakhir dalam dekapan hangatnya.
“Sungguh aku berharap ini bukan mimpi, ini terlalu nyata bagiku, kebahagiaan ini sangat terasa untukku,” kataku tak henti mengungkapkan isi hatiku.
            Lama kami berpelukan, meski tak rela akhirnya kulepaskan pelukannya.
“awww,” aku meringis seraya mengusap-usap lenganku yang baru saja kucubit sendiri.
“Kau tidak apa-apa?” Katanya dengan nada khawatir.
“Tidak, aku hanya memastikan kalau ini benar-benar bukan mimpi”, aku tersenyum. *walau kenyataannya memang mimpi ToT*
“Kau ini,”
Kami saling bertatapan, aku tidak tahu harus berbicara apa lagi. Rasa bahagia, haru, terkejut, seolah membungkam mulutku untuk berkata lebih banyak pada sosok pria yang memang selalu kuharapkan untuk bertemu.
‘Ozil,’ batinku.
End
Sebentar memang, karena lagi-lagi alarmku berbunyi membangunkanku untuk segera sholat subuh. Fiuuhh~
            Oke, jika kalian mau tertawa sampai salto sekalipun aku tidak peduli. Ini hanya mimpi, dan semua yang tak mungkin pasti menjadi mungkin di dalam mimpi. Tidak ada yang salah dalam sebuah mimpi, karena mimpi merupakan bunga tidur. Tapi sungguh, baru kali ini aku bermimpi seolah benar-benar terjadi. Tatapan matanya seolah nyata tertangkap iris coklatku.
Sudahlah, sekali lagi ini HANYA MIMPI! Dan aku bersyukur telah diberikan mimpi seindah ini.
xDDD~

Jumat, 01 Februari 2013

Sayap-Sayap Hidup


Sayap-sayap kecil mulai dikepakkan, menerbangkan para pemiliknya menyapa dunia yang mungkin selama ini terasa asing, disertai dengan tawa khas mereka, merekahkan bahagia yang lama terpendam. Sedangkan aku? Hanya bisa menatap mereka dari balik jendela kayu yang sedikit rapuh tanpa bisa membayangkan bagaimana dunia yang akan mereka jelajahi. Mungkin indah.
Entah apa yang terjadi, tapi sayapku tak kunjung berkembang layaknya peri remaja yang pada umumnya mempunyai sayap yang sempurna. Ini membuatku gila, bahkan aku sempat berpikir untuk melakukannya. Ah, tidak. Jika saja Gray tak menghalangiku untuk pergi kesana, kemungkinan besar sayapku akan berkembang atau... ‘Huh’ aku melenguh tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padaku saat itu jika aku benar pergi kesana.

Sebuah tempat yang diyakini banyak peri dapat mengembangkan sayap yang tidak tumbuh dengan sempurna, ya seperti sayap milikku. Tapi tentu ada resiko dibalik itu. Jika sayap tidak berkembang, maka peri itu akan melebur. Entah apa yang terjadi di tempat itu sehingga bisa membuat sayap menjadi tumbuh atau berkembang. Yang jelas aku sangat penasaran dan ingin sekali mencobanya.
***
            Mungkin ini adalah hari yang sangat ditunggu semua peri yang sudah menginjak remaja. Mereka akan pergi untuk beberapa hari untuk sekedar mengetahui bagaimana dunia yang selama ini kami tinggali. Peraturan itu sudah ada sejak berabad-abad yang tepatnya pun aku tidak tahu. Dan sementara mereka semua bersenang-senang, mungkin, setidaknya mereka bisa terbang dengan sayap mereka sesuka hati. Sementara aku? Bisa kupastikan sepi tak akan pernah meninggalkanku. Ah, dan Gray pun tak ada. Aku benar-benar merasa sendiri.

            Tuhan, aku hanya ingin menjalani hidup yang sesungguhnya. Menjalani hidup yang sudah kubayangkan sejak masa kecil dulu. Seorang bocah yang selalu menanti hari ini dalam hidupnya. Tapi ketika hari yang kunanti tiba, haruskah aku menangis menerima sakitnya kenyataan yang kuterima?

Kututup jendela kamar, setidaknya aku tidak harus melihat tawa teman-temanku yang, jujur saja sedikit perih saat aku melihatnya. Aku iri. Dan aku tak mengelaknya.

Kutenggelamkan wajahku pada bantal biru berbentuk daun favoritku, berteriak sekeras yang aku inginkan tanpa harus takut para tetangga akan memarahiku. Rumahku berada di batang yang lumayan tinggi ketimbang rumah-rumah lain yang berada dibagian akar pohon. Aku  memilihnya karena memang aku menyukainya, setelah ibu meninggal saat melahirkanku aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Ayah? Beliau sudah pergi entah kemana tanpa membawa serta aku yang masih menangis tak berdaya saat itu, kurasa kematian Ibu sangat memukul hatinya. Aku tidak peduli, toh aku pun tak pernah bertemu dengannya. Bibi Lucy yang dengan sabar merawatku, tapi ketika aku sudah cukup mengerti aku memutuskan untuk tinggal sendiri lagipula dengan sayap yang seperti ini aku tidak ingin lebih banyak lagi menyusahkan Bibi Lucy.

Tok tok..  sedikit jelas aku mendengar ketukan di pintu rumahku. Aku berhenti berteriak dan mencoba menjelaskan pendengaranku. Tok..tok.. sekali lagi ketukan itu terdengar, aku segera beranjak dan membuka pintu.

“G-Gray?” kataku tergagap mendapati Gray berada disini bukannya pergi dengan peri-peri yang lain.
           
“Kau tidak akan membiarkanku masuk?” aku tersadar dan menyuruhnya masuk sembari menyembunyikan rona merah pada wajahku saat mata kami bertemu sesaat.

“Gray tapi kenapa kau..” aku mulai bertanya ketika kami sudah duduk, tapi Gray langsung memotongnya.

“Malas.” Aku melongo mendengar jawabannya, dan mungkin kini mulutku tengah membentuk huruf ‘O’.

“Tapi bagaimana bisa?” aku masih tidak habis pikir dengannya, jika saja sayapku sempurna mungkin aku sudah melesat jauh entah kemana. Dan orang ini, dengan santainya hanya menjawab  ‘malas’. Glekk. Aku menelan ludah.

“Aku lebih senang menemanimu ketimbang harus terbang tak jelas.” Deg. Aku sama sekali tak berpikir sampai kesana, aku pikir setiap remaja apalagi seorang laki-laki pasti akan menunggu saat-saat ini ketika mereka mulai bebas mengepakkan sayapnya. Tapi Gray, ah lagi-lagi pemuda ini membuatku merasa bersalah karena aku belum bisa menjadi teman yang mengerti dirinya. Berbeda dengannya yang selalu mengerti aku.

“Terima kasih Gray.” Aku menunduk malu.

“Haha, sudahlah. Bagaimana kalau kita mencari madu, banyak bunga yang bermekaran hari ini.” Aku melihat senyumnya mengembang ketika aku mendongak untuk menatapnya.

“Hmm.. aku mau.” Aku segera bangkit dan mengekori Gray yang akan membawaku terbang bersamanya.
***

            Aku, Neya. Terlahir sebagai peri yang entah mengapa aku merasa diriku tidak seperti itu, karena sayap yang aku punya tidak berkembang layaknya peri yang lain. Aku selalu menyendiri, itulah kenapa aku tidak mempunyai teman dekat. Tapi Gray, pemuda itu berbeda. Entah kenapa, dengan mudahnya dia bisa masuk ke dalam kehidupanku tanpa ada perlawanan dari diriku.
Rasanya aku lebih memilih kembali ke masa laluku tanpa berpikir untuk berada disini seperti sekarang ini, meski itu tidak mungkin. Tapi, disinilah aku sekarang di padang bunga yang tengah bermekaran dengan anggunnya. Keberadaan Gray merubah segalanya, dia membuatku meyadari satu hal bahwa aku harus menghadapi hari esok, entah apa yang akan terjadi kedepannya tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi peri yang sesungguhnya meski perjuangan nanti akan terasa berat, asal Gray selalu disisiku aku yakin bisa melewatinya.
           
            “Manis.”
           
            “Eh- apa?” aku bertanya pada Gray yang kini tengah bertingkah aneh karena dia tertangkap basah tengah memperhatikanku. “Haha. Kau  lucu Gray.”

            “...” Gray menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal. “Jangan menertawaiku.” Wajahnya berubah semerah tomat. Tuhan, aku tidak tahan ingin mencubit pipinya itu.

            “Huaaah~ Melelahkan memanen madu dari bunga sebanyak ini.” Aku berjalan mendekati Gray yang masih salah tingkah dengan membawa madu yang sudah mengisi seluruh botol yang kubawa. Aku duduk disampingnya.

            “Menyenangkan bukan?” Gray mengambil botol madu yang tadi kubawa.

            “Hn- setidaknya aku tak harus mengurung diri di rumah.” Kataku senang.

            “Kalau begitu kau harus membuatkanku cookies madu terenak.” Katanya bangga dengan cengiran lebar yang khas ketika dia sedang merasa senang.

            “Baiklah. Tapi kau harus membantuku.”

            “Aku tidak mau!” katanya langsung menolak. Bisa kupastikan saat ini Gray sedang membayangkan kejadian dulu saat aku memintanya untuk membantuku membuat cookies madu. Cookiesnya memang jadi dengan sempurna, tapi seluruh tubuh Gray berbalut tepung, karena aku tidak sengaja menabraknya saat aku tengah membawa tepung.

            “Haha, bukankah kau suka berbalut tepung?”
           
            “Jangan menggodaku!”

            “Aku tidak menggodamu. Tapi itu kenyataan.” Aku menjulurkan lidahku dan berlari sebelum Gray mengejarku.

            “Awas saja kau Neyaaaa..”
***

            Kini aku merasa sempurna, meski sayapku tetap tak berkembang tapi Gray selalu dengan senang hati membawaku terbang bersamanya. Dan itu sudah cukup untukku. Aku tidak akan mengeluh lagi. Karena Gray aku lebih bisa menghargai diriku dan memahami hidup yang akan kujalani selanjutnya.


Tema 8
Tomorrow's Way
 

END

Kamis, 31 Januari 2013

Mendekap Rindu Bayangmu


Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada bingkai kayu jendela kamarnya, menikmati hujan yang entah sudah berapa lama mengguyur. Hari ini ia libur, sehingga ia tak harus bertarung dengan hujan untuk pergi ke kampus. Matanya menerawang ke arah langit yang tengah menangis. Pandangannya kosong, pikirannya berlari tak menentu. Hingga akhirnya otaknya berhenti pada sebuah memory dua tahun silam, yang masih ia ingat dengan sangat baik. Lalu tenggelam dalam masa lalunya.
***
>>>>> 
Hujan sore itu membuat gadis bermanik coklat yang masih sibuk melayani pembeli sedikit kesal. Tunggu, bukan kesal karena harus melayani pembeli yang memang sedang ramai saat itu, ia sangat memahami sekali pekerjaannya sebagai seorang barista di sebuah Starbucks yang berada disudut paling ramai kota itu. Hanya saja, itu berarti ia harus menunggu sampai hujan reda agar ia bisa pulang kerumahnya. Dan ia benci itu.

             Waktu sudah menunjukan pukul 06.55 p.m itu berarti lima menit lagi jam kerja gadis itu akan berakhir. Senyum samar tergambar pada wajahnya yang manis, karena hujan sudah sedikit reda, meninggalkan gerimis kecil yang masih setia menetes. Gadis itu segera berlari menyusuri jalanan kota yang cukup lengang karena hujan. Tapi apa daya selang beberapa menit ketika gadis itu sudah sampai di halte bus, hujan kembali turun seolah belum puas membasahi bumi yang memang sedikit panas siang tadi. Gadis itu melepas jaketnya kemudian mengibaskannya untuk sedikit menghilangkan air yang menempel, akibat gerimis yang sempat membasahi jaketnya saat berlari tadi, lalu ia memakainya kembali.
            Turunnya hujan membuat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, alhasil halte tempat gadis itu menunggu bus pun menjadi sesak. Orang-orang saling berdesakan satu sama lain dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya dan tersungkur ke aspal jalan, dan dengan cepat ada tangan yang membantunya berdiri.
            
             “Kau tidak apa-apa?” Tanya orang itu dengan nada khawatir, dari nada suaranya dia adalah seorang pria. Gadis itu masih meringis kesakitan karena siku tangannya sedikit berdarah karena terjatuh tadi dan mengabaikan pria yang sudah menolongnya. “Tunggu, kau Zea kan? Ya, aku tidak salah lagi.” Ucap pria itu dengan semburat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Mendengar itu gadis yang diketahui bernama Zea itu pun langsung mendongak dan mendapati pria dihadapannya tengah tersenyum ke arahnya.
              
             “Vino?” Mata Zea terbalalak tak percaya atas apa yang dilihatnya. Ia langsung memeluk pria dihadapannya tanpa tahu bahwa seseorang yang tengah dipeluknya itu sangat terkejut.
***
             Tak ada buku-buku dalam dekapannya, tak ada apron yang membalut tubuhnya, tak ada cangkir-cangkir kopi yang menghiasi tangannya. Yang ada hanya gadis dalam balutan dress putih selututnya dengan sedikit pernik yang menghiasi bagian tangannya dan tas kecil yang berada dalam genggamannya berwarna senada dengan dressnya. Cantik. Itulah kata yang pas untuk menggambarkan gadis yang bernama Zea itu.

Senyumnya kembali mengembang, mengingat untuk apa alasan ia berpenampilan seperti itu. Dua minggu yang lalu entah apa yang Tuhan rencanakan. Gadis itu kembali bertemu dengan seseorang yang hampir saja ia lupakan dengan sempurna, jika saja hujan tak mempertemukan mereka kembali. Seseorang yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan akan bertemu. Seseorang yang sangat ia sayangi. Vino, cinta pertamanya.
             
             Ya, hari ini adalah kencan pertama mereka. Meski satu minggu sudah terlewat, dari pernyataan cinta Vino yang begitu membuat gadis berparas cantik itu harus menitikkan air mata bahagianya karena haru menyelimuti malam yang tak akan pernah ia lupakan.
***
            Mobil ferrari hitam terparkir di depan sebuah bangunan, bukan restoran berbintang lima atau apapun yang berbau elit dan semacamnya. Melainkan sebuah bangunan tua yang sederhana, desainnya begitu rapi dan kokoh menggambarkan keramahan dan ketegasan pemiliknya.
Zea merasa hangat ketika tangan Vino menggenggamnya dan menariknya untuk memasuki bagian dari bangunan itu lebih dalam lagi. Dan kini Zea tengah berada didepan pintu yang cukup besar.
             
            “Tutup matamu.” Pinta Vino pada Zea. Gadis itu tak langsung melakukan apa yang Vino pinta. Ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Kumohon.” Ahirnya Zea menutup matanya karena tidak tahan dengan wajah memelas Vino.
Zea dituntun memasuki sebuah ruangan setelah pintu dibuka, dan membantunya duduk. Perasaan gadis itu akan semakin takut jika saja sebuah suara tak menyuruhnya untuk membuka mata dan mendapati dirinya kini tengah terkejut, bukan karena sesuatu yang membuatnya takut. Tapi sesuatu yang membuat lidahnya kelu dan tak sanggup mengatakan apapun, melainkan hanya tangis yang mampu mewakili perasaanya saat itu. Bagaimana bisa Zea tak terkejut, di ruangan yang kini tengah ia tempati telah ditata sedemikian rupa, hingga ia lupa bahwa tempat itu adalah sebuah bangunan tua. Tak ada lampu melainkan hanya lilin-lilin yang ditempatka disudut-sudut yang tepat. Menambah romantis dan kesan  hangat yang dipancarkan oleh lilin itu, belum lagi mawar-mawar merah yang bertebaran dimana-mana, membuat gadis itu semakin terlihat cantik dengan drees putihnya.
            
            “Hey hey, jangan menangis.” Ucap Vino pelan padanya sembari mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya. “Tersenyumlah.” Pria itu tersenyum hangat. Seakan tertular, sudut bibir gadis itu pun tertarik hingga terlukislah sebuah senyum yang mengembang.
            Malam itu Zea sangat bahagia, ia dan Vino menikmati kencan pertama mereka. Terkadang gadis itu tertawa karena lelucon yang dilontarkan pria yang sangat ia cintai itu. Percakapan-percakapan ringan membuat mereka semakin akrab dan semakin tahu satu sama lain, setelah cukup lama mereka tidak pernah bertemu. Ingin rasanya Zea lebih lama lagi menghabiskan kebersamannya dengan Vino, jika saja malam tak beranjak semakin larut.
***
            Hari-hari yang dijalani Zea semakin berwarna dengan kehadiran Vino disampingnya. Mereka selalu menyempatkan diri untuk bertemu di sela-sela kesibukkan di kampus. Vino yang selalu mengantarkannya pergi bekerja dan tak pernah lupa menjemputnya. Oh tidak, bahkan pria itu pernah berada dalam starbucks hingga Zea menyelesaikan pekerjaannya. Saat itu Zea merasa kurang enak badan, tapi gadis itu tetap memaksakan diri untuk bekerja meski sudah berpuluh kalimat yang diucapkan Vino untuk membujuk kekasihnya itu agar tetap berada dirumah. Lima jam bukan waktu yang sebentar bukan? Dan Vino rela melakukan itu semua hanya untuk mamastikan Zea baik-baik saja, dan takan terjadi apa-apa pada gadis itu.
Zea sangat tersentuh atas sikap kekasihnya itu, ia langsung memeluk Vino ketika ferrari hitam sudah terparkir di depan rumahnya, cukup lama hingga ahirnya gadis itu melepaskan pelukannya dan langsung berlari ke dalam rumah. Zea sempat tersenyum sebelum akhirnya ia menghilang dibalik pintu rumahnya.
***
            Sudah satu tahun sejak pertemuannya dengan Vino. Tak ada masalah yang serius selama mereka menjadi sepasang kekasih, karena Vino selalu mempunyai cara untuk membuatnya tenang bahkan ketika dirinya sangat marah sekali pun. Ia selalu percaya pada kekasihnya itu, meski kekhawatiran tak hentinya menyelimuti dirinya  kala Vino mulai jarang menemuinya sampai satu bulan Vino benar-benar tak menampakkan diri dihadapannya. Pria itu hanya mengirim pesan singkat agar dirinya jangan terlalu khawatir.

Hingga pada suatu malam ketika Zea tengah bersiap untuk pulang dari tempat kerjanya, ia menerima telfon entah dari siapa. Wajah yang tadinya ceria berubah pucat, ia merasa kakinya sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya yang mulai bergetar, air mata sudah membanjiri wajahnya, isakan mulai terdengar, hingga ia tak mampu menggenggam ponselnya dan membiarkan ponsel itu jatuh membentur lantai.
            
            ‘Vino, kanker ganas, operasi gagal, meninggal.’ kalimat-kalimat itu mulai berputar dikepalanya tanpa mampu ia cerna sedikitpun. Pandangannya mulai kabur, hitam  mulai menyelumuti tatap matanya yang entah ia arahkan kemana. Hingga ahirnya gadis itu ambruk.
>>>>> 
***
            “Huh.” Gadis itu menyeka air matanya. “Sudah dua tahun Zea, harusnya kau sudah tak mengeluarkan air matamu ketika mengingat semuanya.” Ya, dua tahun sudah semuanya terlewati, tapi gadis itu tetap menangis ketika tanpa sengaja memory masa lalunya terputar kembali. Tangan itu menutup jendela, sepertinya ia mulai merasa kedinginan. Lalu, ia hempaskan tubuhnya pada ranjang seolah ingin melepaskan semua bebannya dalam sekali hempasan. Ia tahu dunia tak akan berhenti hanya karena cintanya pergi, biarkanlah rindu tetap mendekapnya meski tak tahu kemana rindu itu akan berlabuh. Ia harus terus melanjutkan hidup. Tetap semangat mencari ilmu, bekerja seperti biasa tanpa harus mengeluh pada dunia. Karena ia tahu, rencana Tuhan selalu yang terbaik.

Owari~
           

Minggu, 25 November 2012

Ketika Senja Tak Lagi Terlihat

Sore itu ketika hitam awan menggelayut diujung senja, entah mengapa hatiku pun merasakan mendungnya, dan tanpa terasa bulir-bulir dingin mulai berjatuhan membasuh tanah tapi untuk ini hatiku tak merasakan sejuknya. Hanya bulu kudukku yang terasa berdisi saat hembusan nafasnya menyapu inci tubuh.......