"tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel bernard batubara"
Dear you,
Saat ini aku tengah memandangi senja yang mengintip di balik hari. Indah. Riak-riak emasnya kian memudar seiring datangnya awan gelap yang kian mendominasi, dan entah mengapa hal ini membawaku kembali ke masa itu. Ya, masa di mana aku dan kau melebur menjadi kita karena alasan cinta.
Kau ingat hari itu? Ah, mungkin kau sudah lupa, mengingat hal itu sudah lama berlalu. Tapi tidak masalah, karena aku hanya ingin sedikit bercerita padamu.
Sore itu aku sudah memutuskan akan satu hal, meski ada sedikit keraguan yang samar mengiringiku saat itu- karena sungguh keputusan itu bukan inginku meski aku tetap melakukannya. Jari-jariku mulai mengetikkan sederet kata yang akan kukirimkan padamu. Bukan aku tidak mau untuk menemuimu langsung, hanya saja kupikir ini lebih baik, meski pada kenyataannya aku juga tak memungkiri jika aku berharap kau akan membalasnya dan memintaku menemuimu untuk menyelesaikannya secara langsung.
Tapi sudah beberapa menit berlalu kau tak kunjung membalas pesanku, hingga aku yakin kau tak mungkin membalasnya dan saat itu juga aku putuskan hubungan kita berakhir.
Kau mungkin bertanya-tanya apa alasanku, atau mungkin tidak? Tapi tak perlulah kau tahu, karena ini terdengar sangat klise dan aku yakin ada beberapa pihak yang akan tertawa mendengar alasanku. Tapi aku tidak peduli, biarkan aku menjadi egois saat itu karena aku ingin orang di sekitarku bahagia. Begitu juga kau, kuharap.
Tidak banyak kenangan yang terlukis di antara kita dulu, tapi beberapa hal manis yang kau lakukan untukku mampu membuatku tersenyum dan tidak menyesali kau sempat hadir menghias hariku.
Kau tahu? Aku bahkan sedang tersenyum saat ini menceritakan masa lalu. Tidak, tidak, kau jangan salah paham dulu. Aku tersenyum karena membayangkan betapa lucunya aku saat itu, oh ya ampun bahkan aku tengah membayangkan sikap malu-maluku saat itu, dan kau jangan coba-coba membayangkannya juga! Tapi tentu saja kau boleh tersenyum sepuasmu, teman.
Rabu, 02 April 2014
Rabu, 19 Februari 2014
Just You
Sore itu, langit kelabu
menangis. Aku berjalan sendiri di jalan yang pernah kita lewati bersama. Kau
tahu? Sekalipun aku tak pernah absen memikirkanmu.
Tiap hari, tiap waktu,
di manapun hujan kan bernyanyi, kenangan yang berserakan itu kan bergabung
berulang kali, menyusupkan harapan yang tak terkabul ke dalam hatiku yang
berayun. Tawamu, lengkung sabit indahmu, dan segala hal manis yang hanya kau
lakukan dihadapanku membayang di sela rintik hujan.
Kau lihat? Bagaimana
aku bisa melupakanmu, jika otakku saja menolak untuk menghapus segala memory
tentangmu? Betapa menyedihkannya aku yang terkomando oleh bayang masa lalu,
menjadi budak rindu yang menggebu, meski aku tahu kau tak akan pernah lagi
berlabuh di hatiku?
Bahkan jika kututup mataku, tetap kau yang selalu
berhasil meresap ke dalam hatiku.
Owari~
Terinspirasi dari lagu Remember The Rain - Deluhi #FiksiLagu
Jumat, 24 Januari 2014
Dreaming About You
Gak sengaja buka-buka file di laptop yang udah banyak sarang laba-laba,, eeh nemu ini deh! ^^
Akhirnya aku baca ni cerpen, serius ngakak ga berenti pas bacanya. Aku sampe ga nyangka bisa nulis sekonyol ini (well, bagi aku ini emang konyol xD). Bener-bener parah deh pokonya..wkwkwk
Oke. Let's cek it out ^////^
>>>>>> xDD
Seperti
biasa dimalam-malam pertandingan yang akan dijalani klub terbesar Spanyol Real
Madrid-yang juga merupakan klub favoritku. Alarmku berbunyi, menggetarkan
lelapku agar aku segera terjaga. Kusibak selimut yang semalaman membantuku
sedikit menghalau hembusan angin dari kipas angin yang memang sengaja
kunyalakan, antara dingin dan panas. Begitulah.
Aku beranjak untuk sedikit menyegarkan
diri dengan membasuh wajahku, setidaknya agar aku tidak merasakan kantuk lagi.
Kutekan remote yang langsung menampilkan
gambar pada layar tv lcd-ku. Rupanya sebentar lagi kick off.
Pertandingan
yang mempertemukan Real Madrid dengan Borussia Dortmund 25 April 2013 pukul
01.30 WIB dini hari tadi, memang sangat menegangkan. Tapi tunggu, bukan itu
yang ingin aku ceritakan. Ini tentang mimpiku, ya mimpi ketika aku kembali
terlelap seusai menonton pertandingan itu. Mimpi yang selalu kunantikan.
Aku
tahu ini hanya mimpi, tapi karena itulah. Karena hanya di dalam mimpi aku bisa
bertemu dengannya, dengan sesosok pria yang selama ini menjadi idolaku. Salah
satu pemain inti madrid. Mesut Özil. *hahaha*
Entah apa yang kupikirkan sebelum
benar-benar terlelap. Yang kuingat hanya doaku untuk kemenangan Madrid di leg
kedua di Bernabeu nanti.
This
is a dream~
Aku yang berada
dalam mimpiku sendiri, entah mengapa tiba-tiba melangkah mendekati jendela
rumahku dan terlihatlah pemandangan dibawahnya. Rumahku seperti berada di
tebing. Kurasa. Karena seperti ada sebuah pantai di bawah sana, dan jarak
rumahku cukup tinggi dari bawah sana.
Tiba-tiba iris
mataku menangkap sebuah pergerakan di dalam air, itu terlihat karena
gelombang-gelombang air yang diciptakannya. Mataku menyipit, mencoba
memfokuskan pandanganku. Dan muncullah sebuah kepala yang menandakan yang
bergerak tadi adalah seorang manusia. Tunggu, sepertinya aku tidak asing dengan
wajah itu. Aku yakin. Bahkan sepertinya belum lama aku pernah melihatnya, tapi
entah dimana… *mungkin di tv, kan
aku baru nonton dia ya -_-*
Mata itu,
senyumnya. Ah, ya aku tidak salah lagi. Degup jantungku mulai tak terkontrol,
rasanya jika terus dibiarkan terjadi jantungku mungkin akan terlepas(?) *mati
dong*, baiklah itu terdengar berlebihan.
Entah berapa lama aku melamun, sosok itu
sudah ada di depan gerbang rumahku. Tunggu, rumahku itu cukup tinggi jadi
bagaimana bisa dia sudah sampai di depan? *namanya juga mimpi, apapun bisa
terjadi kan?*
Dia melambaikan tangannya seolah tengah
menyadarkanku, aku terkesiap dan mulai mengerutkan keningku menandakan aku
tengah bingung dengan apa yang sedang dilakukan pria itu. mengerti dengan
kebingunganku dia kembali bersuara dan sedikit keras, mengingat di bawah sana adalah
pantai pasti akan sulit terdengar karena ombak.
“Bawakan aku kursi, ini terlalu tinggi
untukku,” begitulah yang aku dengar, tanpa ba-bi-bu lagi aku segera melesat ke
arah dapur, dan mencari kursi yang dimintanya tadi. Yap, dapat. Aku tersenyum
penuh kemenangan, tapi tetap tidak lupa dengan degup jantung yang semakin aneh
ini.
Aku berlari ke depan rumah, dan
sampailah aku,
dimana kini aku tengah menatap sosok yang selama ini ingin aku temui. Oh, dan
dia tersenyum padaku. Kurasa aku akan segera pingsan jika saja suaranya tidak
kembali menyadarkanku. “Hey.. kau
mendengarku? Berikan kkursi itu padaku, dan masuklah ke dalam. Aku
akan segera naik,” aku segera memberikan kursi tadi dan masuk ke dalam rumah
menuruti permintaannya.
Jika
seperti ini, rasanya pria itu seperti sudah sangat lama mengenalku(?) *perasaan* Belum sempat aku
menyelesaikan ritual tarik napas dalam-dalam pintu depan sudah terbuka,
menampakkan sesosok pria dengan jaket dark greennya dan melukiskan senyuman
hangat padaku. Mungkin saat ini pipiku sudah semerah tomat, aku tidak peduli.
“K-kau
Ozil? Sungguh?” akhirnya kalimat itu mengalir begitu saja memastikan
penglihatanku.
“Seperti yang kau lihat,” katanya santai, seraya merentangkan
tangannya mengundangku dalam dekapannya. Tanpa mempedulikan apapun lagi aku
langsung berlari, menerjangnya dan berakhir dalam dekapan hangatnya.
“Sungguh aku berharap ini bukan mimpi,
ini terlalu nyata bagiku, kebahagiaan ini sangat terasa untukku,” kataku tak
henti mengungkapkan isi hatiku.
Lama
kami berpelukan, meski tak rela akhirnya kulepaskan pelukannya.
“awww,” aku meringis seraya mengusap-usap
lenganku yang baru saja kucubit sendiri.
“Kau tidak apa-apa?” Katanya dengan nada
khawatir.
“Tidak, aku hanya memastikan kalau ini
benar-benar bukan mimpi”,
aku tersenyum. *walau kenyataannya memang mimpi ToT*
“Kau ini,”
Kami saling bertatapan, aku tidak tahu
harus berbicara apa lagi. Rasa bahagia, haru, terkejut, seolah membungkam
mulutku untuk berkata lebih banyak pada sosok pria yang memang selalu kuharapkan
untuk bertemu.
‘Ozil,’ batinku.
End
Sebentar memang, karena lagi-lagi
alarmku berbunyi membangunkanku untuk segera sholat subuh. Fiuuhh~
Oke,
jika kalian mau tertawa sampai salto sekalipun aku tidak peduli. Ini hanya
mimpi, dan semua yang tak mungkin pasti menjadi mungkin di dalam mimpi. Tidak
ada yang salah dalam sebuah mimpi, karena mimpi merupakan bunga tidur. Tapi
sungguh, baru kali ini aku bermimpi seolah benar-benar terjadi. Tatapan matanya
seolah nyata tertangkap iris coklatku.
Sudahlah, sekali lagi ini HANYA MIMPI!
Dan aku bersyukur telah diberikan mimpi seindah ini.
xDDD~
Jumat, 01 Februari 2013
Sayap-Sayap Hidup
Sayap-sayap kecil mulai
dikepakkan, menerbangkan para pemiliknya menyapa dunia yang mungkin selama ini
terasa asing, disertai dengan tawa
khas mereka, merekahkan bahagia yang lama terpendam. Sedangkan aku? Hanya bisa
menatap mereka dari balik jendela kayu yang sedikit rapuh tanpa bisa
membayangkan bagaimana dunia yang akan mereka jelajahi. Mungkin indah.
Entah apa yang terjadi,
tapi sayapku tak kunjung berkembang layaknya peri remaja yang pada umumnya mempunyai
sayap yang sempurna. Ini membuatku gila, bahkan aku sempat berpikir untuk
melakukannya. Ah, tidak. Jika saja Gray tak menghalangiku untuk pergi kesana,
kemungkinan besar sayapku akan berkembang atau... ‘Huh’ aku melenguh tak
sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padaku saat itu jika aku benar pergi
kesana.
Sebuah tempat yang diyakini banyak peri dapat
mengembangkan sayap yang tidak tumbuh dengan sempurna, ya seperti sayap milikku.
Tapi tentu ada resiko dibalik itu. Jika sayap tidak berkembang, maka peri itu
akan melebur. Entah apa yang terjadi di tempat itu sehingga bisa membuat sayap
menjadi tumbuh atau berkembang. Yang jelas aku sangat penasaran dan ingin
sekali mencobanya.
***
Mungkin
ini adalah hari yang sangat ditunggu semua peri yang sudah menginjak remaja. Mereka
akan pergi untuk beberapa hari untuk sekedar mengetahui bagaimana dunia yang
selama ini kami tinggali. Peraturan itu sudah ada sejak berabad-abad yang
tepatnya pun aku tidak tahu. Dan sementara mereka semua bersenang-senang,
mungkin, setidaknya mereka bisa terbang dengan sayap mereka sesuka hati. Sementara
aku? Bisa kupastikan sepi tak akan pernah meninggalkanku. Ah, dan Gray pun tak
ada. Aku benar-benar merasa sendiri.
Tuhan,
aku hanya ingin menjalani hidup yang sesungguhnya. Menjalani hidup yang sudah
kubayangkan sejak masa kecil dulu. Seorang
bocah yang selalu menanti hari ini dalam hidupnya. Tapi ketika hari yang
kunanti tiba, haruskah aku menangis menerima sakitnya kenyataan yang kuterima?
Kututup jendela kamar, setidaknya aku tidak harus
melihat tawa teman-temanku yang, jujur saja sedikit perih saat aku melihatnya. Aku
iri. Dan aku tak mengelaknya.
Kutenggelamkan wajahku
pada bantal biru berbentuk daun favoritku, berteriak sekeras yang aku inginkan
tanpa harus takut para tetangga akan
memarahiku. Rumahku berada di batang yang lumayan tinggi ketimbang rumah-rumah
lain yang berada dibagian akar pohon. Aku memilihnya karena memang aku menyukainya,
setelah ibu meninggal saat melahirkanku aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Ayah?
Beliau sudah pergi entah kemana tanpa membawa serta aku yang masih menangis tak
berdaya saat itu, kurasa kematian Ibu sangat memukul hatinya. Aku tidak peduli,
toh aku pun tak pernah bertemu dengannya. Bibi Lucy yang dengan sabar
merawatku, tapi ketika aku sudah cukup mengerti aku memutuskan untuk tinggal
sendiri lagipula dengan sayap yang seperti ini aku tidak ingin lebih banyak
lagi menyusahkan Bibi Lucy.
Tok tok.. sedikit jelas aku mendengar ketukan di pintu
rumahku. Aku berhenti berteriak dan mencoba menjelaskan pendengaranku. Tok..tok..
sekali lagi ketukan itu terdengar, aku segera beranjak dan membuka pintu.
“G-Gray?” kataku
tergagap mendapati Gray berada disini bukannya pergi dengan peri-peri yang
lain.
“Kau tidak akan
membiarkanku masuk?” aku tersadar dan menyuruhnya masuk sembari menyembunyikan
rona merah pada wajahku saat mata kami bertemu sesaat.
“Gray tapi kenapa kau..”
aku mulai bertanya ketika kami sudah duduk, tapi Gray langsung memotongnya.
“Malas.” Aku melongo
mendengar jawabannya, dan mungkin kini mulutku tengah membentuk huruf ‘O’.
“Tapi bagaimana bisa?”
aku masih tidak habis pikir dengannya, jika saja sayapku sempurna mungkin aku
sudah melesat jauh entah kemana. Dan orang ini, dengan santainya hanya
menjawab ‘malas’. Glekk. Aku menelan
ludah.
“Aku lebih senang
menemanimu ketimbang harus terbang tak jelas.” Deg. Aku sama sekali tak
berpikir sampai kesana, aku pikir setiap remaja apalagi seorang laki-laki pasti
akan menunggu saat-saat ini ketika mereka mulai bebas mengepakkan sayapnya. Tapi
Gray, ah lagi-lagi pemuda ini membuatku merasa bersalah karena aku belum bisa
menjadi teman yang mengerti dirinya. Berbeda dengannya yang selalu mengerti
aku.
“Terima kasih Gray.” Aku
menunduk malu.
“Haha, sudahlah. Bagaimana
kalau kita mencari madu, banyak bunga yang bermekaran hari ini.” Aku melihat senyumnya
mengembang ketika aku mendongak untuk menatapnya.
“Hmm.. aku mau.” Aku segera
bangkit dan mengekori Gray yang akan membawaku terbang bersamanya.
***
Aku,
Neya. Terlahir sebagai peri yang entah mengapa aku merasa diriku tidak seperti
itu, karena sayap yang aku punya tidak berkembang layaknya peri yang lain. Aku selalu
menyendiri, itulah kenapa aku tidak mempunyai teman dekat. Tapi Gray, pemuda
itu berbeda. Entah kenapa, dengan mudahnya dia bisa masuk ke dalam kehidupanku
tanpa ada perlawanan dari diriku.
Rasanya aku lebih memilih kembali ke masa laluku
tanpa berpikir untuk berada disini seperti sekarang ini, meski itu tidak
mungkin. Tapi, disinilah aku sekarang di padang bunga yang tengah bermekaran
dengan anggunnya. Keberadaan Gray merubah segalanya, dia membuatku meyadari
satu hal bahwa aku harus menghadapi hari esok,
entah apa yang akan terjadi kedepannya tapi aku akan terus berusaha untuk
menjadi peri yang sesungguhnya meski perjuangan
nanti akan terasa berat, asal Gray selalu disisiku aku yakin bisa melewatinya.
“Manis.”
“Eh-
apa?” aku bertanya pada Gray yang kini tengah bertingkah aneh karena dia
tertangkap basah tengah memperhatikanku. “Haha. Kau lucu Gray.”
“...”
Gray menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal. “Jangan menertawaiku.” Wajahnya
berubah semerah tomat. Tuhan, aku tidak tahan ingin mencubit pipinya itu.
“Huaaah~
Melelahkan memanen madu dari bunga sebanyak ini.” Aku berjalan mendekati Gray
yang masih salah tingkah dengan membawa madu yang sudah mengisi seluruh botol
yang kubawa. Aku duduk disampingnya.
“Menyenangkan
bukan?” Gray mengambil botol madu yang tadi kubawa.
“Hn-
setidaknya aku tak harus mengurung diri di rumah.” Kataku senang.
“Kalau
begitu kau harus membuatkanku cookies madu terenak.” Katanya bangga dengan
cengiran lebar yang khas ketika dia sedang merasa senang.
“Baiklah.
Tapi kau harus membantuku.”
“Aku
tidak mau!” katanya langsung menolak. Bisa kupastikan saat ini Gray sedang
membayangkan kejadian dulu saat aku memintanya untuk membantuku membuat cookies
madu. Cookiesnya memang jadi dengan sempurna, tapi seluruh tubuh Gray berbalut
tepung, karena aku tidak sengaja menabraknya saat aku tengah membawa tepung.
“Haha,
bukankah kau suka berbalut tepung?”
“Jangan
menggodaku!”
“Aku
tidak menggodamu. Tapi itu kenyataan.” Aku menjulurkan lidahku dan berlari
sebelum Gray mengejarku.
“Awas
saja kau Neyaaaa..”
***
Kini
aku merasa sempurna, meski sayapku tetap tak berkembang tapi Gray selalu dengan
senang hati membawaku terbang bersamanya. Dan itu sudah cukup untukku. Aku tidak
akan mengeluh lagi. Karena Gray aku lebih bisa menghargai diriku dan memahami
hidup yang akan kujalani selanjutnya.
Tema 8
Tomorrow's Way
END
Kamis, 31 Januari 2013
Mendekap Rindu Bayangmu
Gadis itu menyandarkan
tubuhnya pada bingkai kayu jendela kamarnya, menikmati hujan yang entah sudah berapa lama mengguyur. Hari ini ia libur,
sehingga ia tak harus bertarung dengan hujan untuk pergi ke kampus. Matanya
menerawang ke arah langit yang tengah menangis. Pandangannya kosong, pikirannya
berlari tak menentu. Hingga akhirnya otaknya berhenti pada sebuah memory dua
tahun silam, yang masih ia ingat dengan sangat baik. Lalu tenggelam dalam masa
lalunya.
***
>>>>>
Hujan sore itu membuat
gadis bermanik coklat yang masih sibuk melayani pembeli sedikit kesal. Tunggu,
bukan kesal karena harus melayani pembeli yang memang sedang ramai saat itu, ia
sangat memahami sekali pekerjaannya sebagai seorang barista di sebuah Starbucks
yang berada disudut paling ramai kota itu. Hanya saja, itu berarti ia harus menunggu
sampai hujan reda agar ia bisa pulang kerumahnya. Dan ia benci itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 06.55 p.m itu berarti
lima menit lagi jam kerja gadis itu akan berakhir. Senyum samar tergambar pada
wajahnya yang manis, karena hujan sudah sedikit reda, meninggalkan gerimis
kecil yang masih setia menetes. Gadis itu segera berlari menyusuri jalanan kota yang cukup lengang karena
hujan. Tapi apa daya selang beberapa menit ketika gadis itu sudah sampai di
halte bus, hujan kembali turun seolah belum puas membasahi bumi yang memang
sedikit panas siang tadi. Gadis itu melepas jaketnya kemudian mengibaskannya
untuk sedikit menghilangkan air yang menempel, akibat gerimis yang sempat
membasahi jaketnya saat berlari tadi, lalu ia memakainya kembali.
Turunnya
hujan membuat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, alhasil halte
tempat gadis itu menunggu bus pun menjadi sesak. Orang-orang saling berdesakan
satu sama lain dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya dan tersungkur
ke aspal jalan, dan dengan cepat ada tangan yang membantunya berdiri.
“Kau
tidak apa-apa?” Tanya orang itu dengan nada khawatir, dari nada suaranya dia
adalah seorang pria. Gadis itu masih meringis kesakitan karena siku tangannya
sedikit berdarah karena terjatuh tadi dan mengabaikan pria yang sudah
menolongnya. “Tunggu, kau Zea kan? Ya, aku tidak salah lagi.” Ucap pria itu
dengan semburat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Mendengar itu gadis
yang diketahui bernama Zea itu pun langsung mendongak dan mendapati pria
dihadapannya tengah tersenyum ke arahnya.
“Vino?”
Mata Zea terbalalak tak percaya atas apa yang dilihatnya. Ia langsung memeluk
pria dihadapannya tanpa tahu bahwa seseorang yang tengah dipeluknya itu sangat
terkejut.
***
Tak ada buku-buku dalam
dekapannya, tak ada apron yang membalut tubuhnya, tak ada cangkir-cangkir kopi
yang menghiasi tangannya. Yang ada hanya gadis dalam balutan dress putih
selututnya dengan sedikit pernik yang menghiasi bagian tangannya dan tas kecil
yang berada dalam genggamannya berwarna senada dengan dressnya. Cantik. Itulah kata
yang pas untuk menggambarkan gadis yang bernama Zea itu.
Senyumnya kembali mengembang, mengingat untuk apa
alasan ia berpenampilan seperti itu. Dua minggu yang lalu entah apa yang Tuhan
rencanakan. Gadis itu kembali bertemu dengan seseorang yang hampir saja ia
lupakan dengan sempurna, jika saja hujan tak mempertemukan mereka kembali.
Seseorang yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan akan bertemu. Seseorang yang
sangat ia sayangi. Vino, cinta pertamanya.
Ya,
hari ini adalah kencan pertama mereka. Meski satu minggu sudah terlewat, dari
pernyataan cinta Vino yang begitu membuat gadis berparas cantik itu harus
menitikkan air mata bahagianya karena haru menyelimuti malam yang tak akan pernah ia lupakan.
***
Mobil
ferrari hitam terparkir di depan sebuah bangunan, bukan restoran berbintang
lima atau apapun yang berbau elit dan semacamnya. Melainkan sebuah bangunan tua
yang sederhana, desainnya begitu rapi dan kokoh menggambarkan keramahan dan
ketegasan pemiliknya.
Zea merasa hangat ketika tangan Vino menggenggamnya
dan menariknya untuk memasuki bagian dari bangunan itu lebih dalam lagi. Dan
kini Zea tengah berada didepan pintu yang cukup besar.
“Tutup
matamu.” Pinta Vino pada Zea. Gadis itu tak langsung melakukan apa yang Vino
pinta. Ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Kumohon.” Ahirnya Zea
menutup matanya karena tidak tahan dengan wajah memelas Vino.
Zea dituntun memasuki sebuah ruangan setelah pintu
dibuka, dan membantunya duduk. Perasaan gadis itu akan semakin takut jika saja
sebuah suara tak menyuruhnya untuk membuka mata dan mendapati dirinya kini
tengah terkejut, bukan karena sesuatu yang membuatnya takut. Tapi sesuatu yang
membuat lidahnya kelu dan tak sanggup mengatakan apapun, melainkan hanya tangis
yang mampu mewakili perasaanya saat itu. Bagaimana bisa Zea tak terkejut, di
ruangan yang kini tengah ia tempati telah ditata sedemikian rupa, hingga ia
lupa bahwa tempat itu adalah sebuah bangunan tua. Tak ada lampu melainkan hanya
lilin-lilin yang ditempatka disudut-sudut yang tepat. Menambah romantis dan
kesan hangat yang dipancarkan oleh lilin
itu, belum lagi mawar-mawar merah yang bertebaran dimana-mana, membuat gadis
itu semakin terlihat cantik dengan drees putihnya.
“Hey
hey, jangan menangis.” Ucap Vino pelan padanya sembari mengusap air mata yang sudah
membasahi pipinya. “Tersenyumlah.” Pria itu tersenyum hangat. Seakan tertular,
sudut bibir gadis itu pun tertarik hingga terlukislah sebuah senyum yang
mengembang.
Malam itu Zea sangat bahagia, ia dan Vino menikmati
kencan pertama mereka. Terkadang gadis itu tertawa karena lelucon yang
dilontarkan pria yang sangat ia cintai itu. Percakapan-percakapan ringan
membuat mereka semakin akrab dan semakin tahu satu sama lain, setelah cukup lama
mereka tidak pernah bertemu. Ingin rasanya Zea lebih lama lagi menghabiskan
kebersamannya dengan Vino, jika saja malam tak beranjak semakin larut.
***
Hari-hari yang dijalani Zea semakin berwarna dengan
kehadiran Vino disampingnya. Mereka selalu menyempatkan diri untuk bertemu di
sela-sela kesibukkan di kampus. Vino yang selalu mengantarkannya pergi bekerja
dan tak pernah lupa menjemputnya. Oh tidak, bahkan pria itu pernah berada dalam
starbucks hingga Zea menyelesaikan pekerjaannya. Saat itu Zea merasa kurang
enak badan, tapi gadis itu tetap memaksakan diri untuk bekerja meski sudah
berpuluh kalimat yang diucapkan Vino untuk membujuk kekasihnya itu agar tetap
berada dirumah. Lima jam bukan waktu yang sebentar bukan? Dan Vino rela
melakukan itu semua hanya untuk mamastikan Zea baik-baik saja, dan takan
terjadi apa-apa pada gadis itu.
Zea sangat tersentuh
atas sikap kekasihnya itu, ia langsung memeluk Vino ketika ferrari hitam sudah
terparkir di depan rumahnya, cukup lama hingga ahirnya gadis itu melepaskan
pelukannya dan langsung berlari ke dalam rumah. Zea sempat tersenyum sebelum
akhirnya ia menghilang dibalik pintu rumahnya.
***
Sudah satu tahun sejak pertemuannya dengan Vino. Tak ada
masalah yang serius selama mereka menjadi sepasang kekasih, karena Vino selalu
mempunyai cara untuk membuatnya tenang bahkan ketika dirinya sangat marah
sekali pun. Ia selalu percaya pada kekasihnya itu, meski kekhawatiran tak
hentinya menyelimuti dirinya kala Vino
mulai jarang menemuinya sampai satu bulan Vino benar-benar tak menampakkan diri
dihadapannya. Pria itu hanya mengirim pesan singkat agar dirinya jangan terlalu
khawatir.
Hingga pada suatu malam
ketika Zea tengah bersiap untuk pulang dari tempat kerjanya, ia menerima telfon
entah dari siapa. Wajah yang tadinya ceria berubah pucat, ia merasa kakinya
sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya yang mulai bergetar, air mata sudah
membanjiri wajahnya, isakan mulai terdengar, hingga ia tak mampu menggenggam
ponselnya dan membiarkan ponsel itu jatuh membentur lantai.
‘Vino, kanker ganas, operasi gagal, meninggal.’
kalimat-kalimat itu mulai berputar dikepalanya tanpa mampu ia cerna sedikitpun.
Pandangannya mulai kabur, hitam mulai
menyelumuti tatap matanya yang entah ia arahkan kemana. Hingga ahirnya gadis
itu ambruk.
>>>>>
***
“Huh.” Gadis itu
menyeka air matanya. “Sudah dua tahun Zea, harusnya kau sudah tak mengeluarkan
air matamu ketika mengingat semuanya.” Ya, dua tahun sudah semuanya terlewati,
tapi gadis itu tetap menangis ketika tanpa sengaja memory masa lalunya terputar
kembali. Tangan itu menutup jendela, sepertinya ia mulai merasa kedinginan.
Lalu, ia hempaskan tubuhnya pada ranjang seolah ingin melepaskan semua bebannya
dalam sekali hempasan. Ia tahu dunia tak akan berhenti hanya karena cintanya
pergi, biarkanlah rindu tetap
mendekapnya meski tak tahu kemana rindu itu akan berlabuh. Ia harus terus
melanjutkan hidup. Tetap semangat
mencari ilmu, bekerja seperti biasa tanpa harus mengeluh pada dunia. Karena ia
tahu, rencana Tuhan selalu yang terbaik.
Owari~
Langganan:
Postingan (Atom)